Program ini menargetkan desa, pasar dan sekolah sebagai tiga pilar utama penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pangan yang aman, bermutu dan bergizi.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Bulungan, H. Jamal menegaskan keamanan pangan bukan sekadar isu teknis, melainkan isu strategis daerah. “Keamanan pangan merupakan isu strategis yang sangat erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia. Pangan yang aman, bermutu, dan bergizi adalah fondasi utama dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya saing,” kata Jamal kepada Radar Kaltara, Selasa (3/3).
Ia menekankan, sistem keamanan pangan tidak bisa dibangun secara parsial. “Upaya ini harus terintegrasi mulai dari desa, pasar, hingga lingkungan sekolah. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” ungkapnya.
Pemda Bulungan, lanjut Jamal, memberikan apresiasi kepada BPOM Tarakan atas pelaksanaan advokasi terpadu tersebut.
“Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada BPOM atas pelaksanaan kegiatan ini. Ini langkah konkret memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, pelaku usaha, komunitas pasar, serta satuan pendidikan,” katanya.
Menurut dia, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pembudayaan keamanan pangan berjalan berkelanjutan dan tidak berhenti pada tataran seremoni.
Melalui desa pangan aman, pemerintah desa dan masyarakat didorong memahami pentingnya pengelolaan pangan sesuai standar keamanan, mulai dari produksi, pengolahan hingga distribusi.
“Desa tidak hanya menjadi objek pembinaan, tetapi juga subjek yang aktif menjaga dan mengawasi keamanan pangan di wilayahnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan kapasitas aparatur desa dan kader pangan menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem pengawasan berbasis komunitas. Sementara itu, pasar pangan aman berbasis komunitas diarahkan untuk memberdayakan pedagang dan pengelola pasar agar menerapkan praktik penanganan pangan yang higienis dan sesuai ketentuan.
“Pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat harus mampu memberikan jaminan keamanan pangan bagi konsumen,” tegasnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas membuat pedagang menjadi mitra aktif dalam menjaga mutu dan keamanan pangan, bukan sekadar objek pengawasan. Di sektor pendidikan, program sekolah yang melaksanakan pembudayaan keamanan pangan difokuskan pada pembentukan perilaku hidup sehat sejak dini.
“Sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku hidup sehat, termasuk dalam memilih dan mengonsumsi pangan yang aman,” ujarnya.
Ia berharap edukasi tersebut menjadikan siswa bukan hanya konsumen cerdas, tetapi juga agen perubahan di keluarga dan masyarakat. Jamal berharap kegiatan advokasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Ia meminta perangkat daerah bersinergi optimal dengan BPOM dalam implementasi program.
“Saya berharap ada komitmen nyata, rencana aksi terukur, serta pendampingan berkelanjutan agar program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen menjadikan keamanan pangan sebagai gerakan bersama. “Dengan kolaborasi yang kuat, insyaallah kita dapat mewujudkan Kabupaten Bulungan yang sehat, maju dan sejahtera melalui pangan yang aman dan berkualitas,” pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim