Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Empat Pilar ke Gen Z Kaltara, Seberapa Efektif Tanamkan Nilai Kebangsaan?

Iwan RT • Selasa, 3 Maret 2026 | 04:02 WIB

 

KEBANGSAAN: Anggota DPR RI, Hj. Rahmawati memaparkan terkait Empat Pilar MPR RI.   
KEBANGSAAN: Anggota DPR RI, Hj. Rahmawati memaparkan terkait Empat Pilar MPR RI.  
TANJUNG SELOR - Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan atau 4 Pilar MPR RI kembali digelar di Kalimantan Utara (Kaltara). Kali ini menyasar generasi Z, segmen usia muda yang tumbuh di tengah arus informasi digital dan polarisasi opini di media sosial.

Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Hj. Rahmawati, menggelar kegiatan sosialisasi di Tanjung Selor, Senin (2/3). Agenda tersebut merupakan bagian dari program konstitusional anggota parlemen untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap 4 Pilar MPR RI.

Empat pilar yang dimaksud meliputi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan dalam keberagaman.

Dalam paparannya, Rahmawati menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus informasi digital. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki pemahaman utuh terhadap nilai-nilai kebangsaan agar tidak mudah terpapar paham intoleransi maupun radikalisme.

“Empat Pilar bukan hanya untuk dihafal, tetapi dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Namun, di tengah maraknya kegiatan sosialisasi serupa di berbagai daerah, efektivitas pendekatan ini juga menjadi perhatian. Tantangan utama bukan hanya pada penyampaian materi, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut relevan dengan realitas yang dihadapi gen Z, mulai dari isu kebebasan berekspresi, literasi digital, hingga partisipasi politik.

Dalam sesi dialog, peserta mengangkat sejumlah isu aktual seperti toleransi antarumat beragama, potensi radikalisme di ruang digital, serta sejauh mana peran legislatif benar-benar memperjuangkan aspirasi daerah, khususnya wilayah perbatasan seperti Kaltara.

Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan fungsi dan peran Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dalam sistem ketatanegaraan. Meski demikian, penguatan nilai kebangsaan di kalangan generasi muda dinilai memerlukan pendekatan yang lebih interaktif, kontekstual, dan berkelanjutan, tidak berhenti pada forum seremonial.

Di tengah dinamika sosial-politik yang terus berkembang, pertanyaan mendasarnya adalah: sejauh mana sosialisasi Empat Pilar mampu membentuk kesadaran kritis generasi muda, bukan sekadar pemahaman normatif? (iwk/lim)

 

Editor : Azward Halim