Kepala BPS Kaltara, Mustaqim mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan BPS Kaltara di 3 kabupaten/kota terjadi inflasi 4,75 persen secara y-on-y atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 104,11 poin pada Februari 2025 menjadi 109,16 poin pada Februari 2026.
Inflasi y-on-y terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, mulai dari kelompok makanan, minuman dan tembakau 1,08 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 19,89 persen.
Kemudian, kelompok kesehatan 7,41 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 1,11 persen, kelompok pendidikan 0,97 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,59 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 16,44 persen.
Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yakni kelompok pakaian dan alas kaki 0,06 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,52 persen, kelompok transportasi 0,81 persen, serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,32 persen.
Komoditas yang dominan menjadi pemicu inflasi y-on-y pada Februari 2026, mulai dari tarif listrik, tarif air minum PAM, tarif rumah sakit, beras, ikan bandeng, nasi dengan lauk, bawang merah, telur ayam ras, sewa rumah, sepeda motor, air kemasan, ikan tongkol, kontrak rumah, minyak goreng, hingga emas perhiasan.
"Sedangkan komoditas yang memberikan andil atau sumbangan deflasi y-on-y, antara lain angkutan udara, tomat, sawi hijau, bayam dan kangkung," ujar Mustaqim kepada Radar Tarakan, Senin (2/3).
Sedangkan untuk kelompok pengeluaran yang memberi sumbangan inflasi y-on-y, di antaranya kelompok makanan, minuman dan tembakau 0,36 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 2,86 persen, serta kelompok kesehatan 0,18 persen.
"Sedangkan penyumbang deflasi y-on-y, yaitu kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,03 persen, kelompok transportasi 0,10 persen, serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,02 persen," tuturnya.
Secara umum, Mustaqim menyebutkan ada beberapa hal yang menjadi pemicu terjadinya inflasi, di antaranya tren kenaikan harga emas dunia yang terus naik hingga Februari 2026 turut mempengaruhi harga emas di Kaltara.
Kemudian, hari besar keagamaan nasional (HBKN) seperti tahun baru imlek pada 17 Februari 2026, awal Ramadan yang jatuh pada 19 Februari 2026 juga mempengaruhi pola makan masyarakat. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim