Kekhawatiran itu berkaitan dengan ketersediaan BBM di daerah perbatasan RI-Malaysia tersebut. Jika pihak maskapai tidak segera menyiapkan pengganti pesawat yang jatuh di Gunung Pa’ Belaban, Krayan Timur itu, maka Krayan akan terancam kelangkaan BBM.
Tokoh adat Dayak Lundayeh Kaltara, Marli Kamis mengatakan, informasi yang ia terima bahwa pesawat pengangkut BBM itu ada dua unit. Karena satu unit terkena musibah, maka yang ada saat ini hanya tersisa satu unit.
“Mungkin kalau tidak ada penggantinya, itu akan membuat dua hingga tiga minggu ke depan akan terjadi kelangkaan BBM di Krayan, karena dia mengangkut BBM itu rutin tiap hari,” ujar Marli kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi, Ahad (23/2).
Anggota DPRD Kaltara periode 2019-2024 ini menjelaskan, pengangkutan BBM itu dilakukan setiap hari karena dia harus memenuhi kebutuhan BBM di lima kecamatan yang ada di Krayan.
“Jadi jelas kelangkaan ke depan ini bisa saja terjadi akibat faktor pengangkutannya. Untuk itu kita harapkan pihak maskapai bisa menyiapkan pesawat pengganti dalam waktu dekat ini,” tuturnya.
Ini dinilai perlu menjadi atensi guna menghindari terjadinya kelangkaan BBM di Krayan. Hal yang tak kalah pentingnya juga disarankan kepada pihak maskapai, yakni harus dapat mengukur segala sesuatunya dengan standar yang tepat.
“Kita bisa belajar dari MAF. Kan MAF ini setiap mau terbang, dia lakukan maintenance. Ini perlu diperhatikan oleh pihak maskapai karena kasihan kalau terjadi kecelakaan seperti ini, kan pilot ini juga punya keluarga,” katanya.
Selaku Tokoh Adat Dayak Lundayeh Kaltara, ia pun menyampaikan turut berduka cita kepada keluarga pilot dari pesawat yang kecelakaan dalam menjalankan tugas negara untuk memenuhi ketersediaan BBM di wilayah perbatasan provinsi ke-34 Indonesia ini.
“Terima kasih atas kebaikan pilot ini dalam melayani pemenuhan kebutuhan BBM masyarakat Krayan selama ini. Semoga Tuhan memberkati serta menguatkan keluarga yang ditinggalkan,” pungkasnya. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim