Sejak pagi hingga malam, warga keturunan Tionghoa di Bulungan berdatangan silih berganti untuk melaksanakan ibadah menyambut pergantian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang akan memasuki Tahun Kuda Api.
Ketua Pelestarian Tradisi Tionghoa Tanjung Selor, Satya Bahari, atau yang akrab disapa Abay, mengatakan bahwa ibadah hari ini menjadi momen penting untuk berkumpul bersama keluarga, baik yang datang dari dekat maupun jauh.
“Hari ini semua sanak keluarga, yang jauh maupun dekat, kalau mereka mampu pasti pulang. Kita berkumpul, lalu masing-masing berdoa sesuai permohonannya,” ujar Abay kepada Radar Tarakan kala ditemui usai sembahyang.
Menurutnya, hari ini dipilih karena dianggap sebagai hari baik dan bulan baik untuk memanjatkan doa menjelang pergantian tahun.
Ibadah dilakukan dengan penuh kekhusyukan, mendoakan keselamatan, kesehatan, serta kesejahteraan keluarga di tahun yang baru.
“Kalau mau menyambut tahun baru, hari ini sudah paling baik untuk ibadah,” katanya.
Abay menjelaskan, pergantian tahun secara simbolis baru akan dimulai setelah tengah malam, sekitar pukul 00.00 Wita, saat memasuki Tahun Kuda Api.
Tahun ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Tionghoa.
“Kuda itu melambangkan tenaga besar dan kekuatan. Ditambah unsur api, artinya semangat yang membara, membangkitkan energi baru, terutama untuk ekonomi dan usaha,” jelasnya.
Ia menuturkan, sebagian besar warga Tionghoa menggantungkan hidup dari sektor perdagangan. Karena itu, doa-doa yang dipanjatkan tak lepas dari harapan agar usaha tetap lancar dan perekonomian membaik.
“Melalui hari seperti ini, kami berdoa untuk keselamatan, kejayaan, dan kesejahteraan. Harapannya ekonomi bisa bangkit lagi,” ucap Abay.
Tak hanya untuk keluarga dan usaha, doa juga dipanjatkan untuk bangsa dan negara. Abay berharap pemerintah dan kondisi nasional ke depan semakin kuat menghadapi tantangan ekonomi.
“Kita berharap negara kita, pemerintah kita, bisa lebih hebat lagi. Apalagi sekarang kondisi ekonomi memang sedang terasa berat di mana-mana,” katanya.
Pantauan di lokasi, ibadah di kelenteng berlangsung sejak dini hari. Namun puncak keramaian justru terjadi pada siang hari, saat seluruh anggota keluarga telah berkumpul.
“Saya sendiri sengaja sembahyang jam dua siang, agar bisa kumpul bersama-sama keluarga, termasuk yang datang dari jauh,” katanya.
Setelah sembahyang, malam harinya seluruh keluarga berkumpul di meja untuk makan bersama.
“Nanti malam kita makan besar bersama keluarga. Paginya kita saling silaturahmi open house,” ujarnya.
Sebelum open house, warga Tionghoa juga melakukan sembahyang Imlek hari pertama. “Bebas saja mau sembahyang jam berapa. Kalau saya pagi, setelah itu baru open house,” terangnya.
Ia berharap, dengan semangat Tahun Kuda Api, perekonomian masyarakat bisa melompat lebih jauh dan kehidupan ke depan menjadi lebih baik. “Mudah-mudahan dengan kuda ini, kita semua bisa melangkah lebih kuat dan lebih jauh,” pungkasnya. (ana/lim)