Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

BPS: Penduduk Miskin Kaltara Turun Tipis, Masih 42,45 Ribu Jiwa

Iwan RT • Kamis, 12 Februari 2026 | 14:02 WIB

STATISTIK: Wilayah perkotaan di Tanjung Selor yang penduduknya mengalami kenaikan pada September 2025.
STATISTIK: Wilayah perkotaan di Tanjung Selor yang penduduknya mengalami kenaikan pada September 2025.
TANJUNG SELOR - Angka kemiskinan Kalimantan Utara (Kaltara) pada September 2025 tercatat mengalami penurunan dalam enam bulan atau satu semester.

Namun, penurunan secara absolut terjadi sangat tipis, yakni hanya 0,02 ribu jiwa atau 0,07 persen dari 42,57 ribu jiwa pada Maret 2025 menjadi 42,45 ribu jiwa pada September 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, Mustaqim mengatakan, dari jumlah ini, penduduk miskin perkotaan mengalami kenaikan, sedangkan penduduk miskin pedesaan mengalami penurunan secara absolut maupun persentase.

"Penduduk miskin di perkotaan bertambah 4,16 ribu jiwa dari 25,56 ribu pada Maret 2025 menjadi 29,73 ribu pada September 2025 atau secara persentase naik sebesar 0,59 persen," ujar Mustaqim kepada Radar Tarakan beberapa waktu lalu.

Sementara di pedesaan, turun 4,29 ribu jiwa dari 17,01 ribu pada Maret 2025 menjadi 12,73 ribu pada September 2025 atau secara persentase turun 1,26 persen. Namun, dari, sisi jumlah penduduk miskin di pedesaan lebih sedikit dibanding di perkotaan.

"Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan (GK), karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan," jelasnya.

Selama Maret - September 2025, garis kemiskinan Kaltara naik 5,50 persen, dari Rp 884.970 per kapita per bulan pada Maret 2025 menjadi Rp 933.675 per kapita per bulan pada September 2025.

Dengan memperhatikan komponen GK, yang terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan non-makanan (GKNM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan komoditi bukan makanan.

Pada September 2025, GK di daerah perkotaan lebih besar dibandingkan di daerah pedesaan, yang mana GK di daerah perkotaan sebesar Rp 963.971, sedangkan di daerah pedesaan Rp 868.014.

"Ini menggambarkan bahwa pemenuhan kebutuhan hidup di daerah perkotaan lebih mahal dibandingkan dengan daerah pedesaan," tuturnya.

Adapun lima komoditi terbesar penyumbang GKM di perkotaan meliputi beras, rokok kretek/filter, telur ayam ras, daging ayam ras dan bandeng.

Sementara lima komoditas terbesar penyumbang GKM di pedesaan adalah beras, rokok kretek/filter, telur ayam ras, daging ayam ras dan gula pasir.

"Kalau di seluruh wilayah (perkotaan dan pedesaan), komoditi beras jadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 24,26 persen di perkotaan dan 29,70 persen di pedesaan," jelasnya.

Kemudian untuk lima komoditi terbesar penyumbang GKNM di perkotaan yaitu perumahan, listrik, bensin, pendidikan dan air. Sedangkan di pedesaan terdapat perbedaan pola, yakni perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi menjadi penyumbang terbesar GKNM.

Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

"Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan pengentasan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan," pungkasnya. (iwk/lim)

Editor : Azward Halim