Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Stok Beras Bulog Bulungan Tembus 2.700 Ton, Aman hingga Akhir 2026

Fijai RT • Kamis, 15 Januari 2026 | 01:01 WIB

BERAS: Stok beras di Gudang Perum Bulog Cabang Bulungan.
BERAS: Stok beras di Gudang Perum Bulog Cabang Bulungan.
TANJUNG SELOR – Ketersediaan beras di Bulungan dipastikan aman hingga akhir tahun 2026. Perum Bulog Cabang Bulungan mencatat stok beras di gudang mencapai sekitar 2.700 ton.

Asisten Manager Operasional Perum Bulog Cabang Bulungan, Dwi Novianto mengatakan, saat ini stok beras yang tersedia di gudang Bulog Bulungan berjumlah sekitar 1.200 ton dan akan bertambah 1.500 ton dari luar daerah.
“Sekarang ini stok di gudang Bulog Bulungan sekitar 1.200 ton dan akan ada tambahan penerimaan dari Jawa Timur sebanyak 1.500 ton, sehingga totalnya kurang lebih 2.700 ton,” kata Dwi kepada Radar Kaltara, Rabu (14/1).

Ia menegaskan, dengan jumlah tersebut, ketersediaan beras untuk masyarakat Bulungan dipastikan aman, termasuk menghadapi momen Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
“Untuk ketersediaan stok beras tahun 2026, insya Allah aman sampai akhir tahun dan mencukupi kebutuhan masyarakat menjelang hari raya,” katanya.

Dwi menjelaskan, komoditas beras yang tersedia di Gudang Bulog Cabang Bulungan terdiri dari beras medium dan beras premium. Seluruhnya masih dijual dengan harga yang sama seperti tahun sebelumnya.
“Untuk beras premium kemasan 5 kilogram harganya Rp 77 ribu, kemasan 10 kilogram Rp 154 ribu, sementara beras medium SPHP dijual Rp 60 ribu per 5 kilogram,” jelasnya.

Selain beras, Bulog Bulungan juga mencatat tingginya permintaan masyarakat terhadap minyak goreng, khususnya Minyakita. Namun, penyalurannya masih menghadapi kendala biaya distribusi.
“Permintaan minyak goreng cukup tinggi, terutama Minyakita. Kendalanya ada pada biaya distribusi karena harga jual harus di bawah HET, sementara biaya angkut ke Bulungan berpotensi melebihi HET,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti tantangan distribusi ke wilayah lain seperti Kabupaten Tana Tidung dan Malinau, yang dipengaruhi jarak dan ongkos angkut.
“Distribusi ke KTT dan Malinau lebih terbatas karena jarak tempuh dan biaya transportasi yang lebih besar dibandingkan Bulungan,” ujarnya.

Terkait serapan beras lokal, Dwi memastikan Bulog tetap melibatkan petani daerah. Serapan beras lokal pada 2026 direncanakan kembali dilakukan dengan cakupan wilayah yang lebih luas dibanding tahun sebelumnya.
“Kami masih melakukan serapan beras lokal. Pada 2026 ini direncanakan kembali menyerap beras petani dengan wilayah yang lebih luas, menyesuaikan masa panen sekitar Februari hingga Maret,” pungkasnya. (jai/lim)

Editor : Azward Halim