Wakil Bupati (Wabup) Bulungan, Kilat memastikan kesiapan pelaksanaan program hilirisasi kakao yang diinisiasi Disperta Bulungan sebagai langkah strategis meningkatkan nilai tambah produk pertanian sekaligus mendongkrak pendapatan petani.
“Hilirisasi kakao ini kita pastikan siap dilaksanakan, karena tujuannya jelas, meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani melalui rantai produksi yang lebih efisien,” kata Kilat kepada Radar Kaltara, Rabu (14/1).
Ia menjelaskan, CPCL dilakukan untuk memperoleh data riil di lapangan, mulai dari kondisi lahan, jumlah calon petani, hingga kesiapan sarana dan prasarana (sarpras) pendukung budidaya kakao.
“Melalui CPCL, kita ingin memastikan kondisi lahan dan kesiapan petani, sehingga program yang diberikan pemerintah benar-benar tepat sasaran,” ungkapnya.
Menurutnya, data akurat menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyalurkan berbagai bentuk dukungan, baik berupa pendampingan teknis, bantuan bibit unggul hingga pelatihan pengolahan hasil kakao.
“Dengan data yang jelas, intervensi pemerintah bisa lebih terarah, baik pendampingan, penyediaan bibit, maupun pelatihan pengolahan hasil,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Bulungan Risdianto mendorong Disperta Bulungan serta kelompok tani untuk memastikan kesiapan administrasi dan teknis pelaksanaan program di lapangan.
“Kami memastikan seluruh aspek administrasi dan teknis di tingkat lapangan siap, agar program hilirisasi ini bisa berjalan lancar,” katanya.
Kepala Disperta Bulungan Kristiyanto menyampaikan, identifikasi CPCL secara langsung menjadi kunci keberhasilan program hilirisasi kakao agar sesuai target dan memberikan manfaat nyata bagi petani.
“Dengan CPCL yang dilakukan langsung di lapangan, kita bisa memastikan program hilirisasi berjalan sesuai sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani,” ujarnya.
Ia menambahkan, Disperta Bulungan menargetkan hilirisasi kakao mampu meningkatkan produksi dan kualitas biji kakao Bulungan, sekaligus membuka peluang investasi pengolahan kakao di daerah.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal kebangkitan komoditas kakao Bulungan, sekaligus membuka peluang investasi pengolahan di daerah,” ungkapnya.
Selain itu, hilirisasi kakao juga diharapkan dapat menumbuhkan usaha kecil menengah (UKM) berbasis olahan kakao, seperti bubuk cokelat, cokelat batangan, hingga berbagai produk turunan lainnya.
“Ke depan, kita dorong tumbuhnya UKM olahan kakao agar nilai tambah tidak keluar daerah, tetapi dinikmati langsung oleh masyarakat Bulungan,” pungkasnya.
(jai/lim)