Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kendaraan Pemuatan Jenazah Terjebak Jalan Rusak, Potret Kelam Pembangunan di Perbatasan

Iwan RT • Kamis, 8 Januari 2026 | 18:02 WIB

PERBATASAN: Perjuangan warga Krayan untuk melintasi jalan di wilayah Krayan.
PERBATASAN: Perjuangan warga Krayan untuk melintasi jalan di wilayah Krayan.
TANJUNG SELOR - Kondisi akses jalan yang rusak parah di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) kembali dikeluarkan oleh masyarakat setempat.

Bahkan, hal miris tergambarkan dalam sebuah video yang diterima Radar Tarakan pada Kamis (8/1). Video pendek berdurasi 0,28 menit itu menunjukkan sebuah mobil double gardan yang memuat jenazah terjebak atau amblas di jalan rusak.

Tampak sejumlah masyarakat berusaha mendorong mobil tersebut agar bisa keluar atau terlepas dari potongan jalan yang rusak itu. Hal ini menunjukkan potret kelam pembangunan di perbatasan provinsi ke-34 Indonesia ini.

Marli Kamis, salah seorang tokoh di Krayan menyampaikan, jenazah yang dibawa itu merupakan salah satu guru senior atau perintis pendidikan di Krayan, khusus di Desa Long Rungan, Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan.

"Tanggal 1 Januari 2026 kemarin meninggal di Tarakan dan jenazah langsung dari RSUD dr. H. Jusup SK ke Bandara Juwata Tarakan untuk diberangkatkan ke Binuang, Krayan," ujar Marli melalui pesan WhatsApp pribadinya, Kamis (8/1).

Marli menyampaikan bahwa jenazah tersebut dibawah ke kampungnya di Long Rungan. Akan tetapi, jalan tidak bersahabat sehingga mobil yang digunakan amblas di jalan rusak hingga kurang lebih 3 jam.

"Mobil ini dibantu dorong oleh warga desa yang ada di Desa Binuang dan Long Padi. Jalan yang dilewati ini merupakan tanah provinsi yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara.

"Semasih hidup menderita karena akses jalan tidak layak untuk manusia, ketika wafat lebih menderita lagi melalui jalan ini," kata Marli.

Dengan begitu, ia menegaskan jika pemerintah merasa bahwa ada beda manusia dengan hewan, bertindaklah untuk mengurangi penderitaan manusia di Krayan ini. Jika tidak, maka biarlah kondisi seperti ini tanpa tindakan. (iwk/lim)

Editor : Azward Halim