TANJUNG SELOR - Istilah “super flu” yang belakangan ramai dibicarakan masyarakat, menyusul maraknya keluhan demam tinggi dan nyeri tubuh berkepanjangan, mendapat perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Utara. Otoritas kesehatan menegaskan, istilah tersebut bukan nama penyakit medis dan berpotensi menimbulkan salah persepsi di tengah masyarakat.
Kepala Dinkes Kaltara, Usman, mengatakan hingga saat ini tidak ada diagnosis resmi bernama super flu. Istilah tersebut muncul karena gejala flu yang dirasakan sebagian masyarakat tergolong berat dan menyerupai infeksi saluran pernapasan akut.
“Secara medis tidak ada istilah super flu. Yang ada adalah infeksi virus saluran pernapasan dengan gejala yang bisa cukup berat, seperti demam tinggi hingga 39–40 derajat, nyeri otot, badan pegal, bahkan bisa sampai sesak napas,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (6/1).
Usman menjelaskan, meski cara penularannya mirip dengan Covid-19 melalui saluran pernapasan, kondisi ini berbeda dari sisi tingkat keparahan. Hingga saat ini, Dinkes Kaltara tidak mencatat adanya angka kematian akibat kasus yang disebut masyarakat sebagai super flu tersebut.
“Penularannya cepat karena virus, tapi tingkat fatalitasnya rendah. Tidak seperti Covid-19 yang bisa berujung pada kematian,” jelasnya.
Ia mengakui, kemungkinan kasus dengan gejala tersebut ada di Kaltara. Namun, banyak penderita tidak tercatat di fasilitas kesehatan karena memilih melakukan perawatan mandiri di rumah. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi adalah kekhawatiran masyarakat akan prosedur isolasi seperti pada masa pandemi Covid-19.
“Padahal kondisi ini tidak memerlukan isolasi khusus. Penanganannya pada prinsipnya sama dengan flu virus pada umumnya,” katanya.
Terkait pencegahan, Usman menyebut vaksin flu sebenarnya sudah lama tersedia, meski tidak termasuk dalam program vaksinasi pemerintah. Vaksin tersebut umumnya bersifat mandiri dan dapat diperoleh di klinik atau dokter praktik.
“Biasanya vaksin flu diberikan untuk keperluan tertentu seperti ibadah haji. Ini bukan vaksin program, sehingga sifatnya pilihan dan berbayar,” ujarnya.
Ia mengingatkan, infeksi virus pernapasan cenderung menyerang saat daya tahan tubuh menurun. Karena itu, masyarakat diminta menjaga kondisi kesehatan dan tidak panik menyikapi istilah yang beredar. “Yang penting, masyarakat tidak salah paham dan tetap rasional. Jika gejala berat atau tidak membaik, sebaiknya tetap memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” jelasnya. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim