Zainal mengatakan, posisi Kaltara di peringkat pertama nasional merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor, termasuk peran Kemenag, pemerintah daerah, serta masyarakat di tingkat akar rumput.
“Kerja sama yang dibangun selama ini menunjukkan hasil positif. Indeks kerukunan umat beragama Kaltara pada 2025 berada di peringkat satu nasional,” ujarnya usai kegiatan.
Meski demikian, Zainal menegaskan capaian tersebut tidak boleh dipandang sebagai hasil akhir. Menurutnya, menjaga kerukunan membutuhkan upaya berkelanjutan dan tidak cukup hanya dengan kegiatan seremonial. “Mempertahankan itu jauh lebih sulit. Dibutuhkan konsistensi, pertemuan rutin, serta kegiatan sosial lintas umat beragama agar harmoni tetap terjaga,” katanya.
Ia menilai, peran Kanwil Kemenag Kaltara sebagai instansi vertikal cukup strategis dalam memfasilitasi dialog dan kerja sama antarumat beragama. Namun, keberhasilan menjaga kerukunan tetap bergantung pada keterlibatan semua pihak. “Sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat harus terus diperkuat. Tanpa itu, indeks hanya akan menjadi angka,” ujarnya.
Zainal juga mengingatkan bahwa keberagaman agama dan etnis di Kalimantan Utara merupakan realitas sosial yang harus dikelola dengan pendekatan inklusif dan berkelanjutan. “Kerukunan bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Ia harus dirawat melalui komunikasi, toleransi, dan kerja bersama,” tambahnya. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim