Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kemenag Dorong Dialog Lintas Agama, Jaga Toleransi di Tengah Keragaman Kaltara

Iwan RT • Selasa, 6 Januari 2026 | 15:13 WIB

Kepala Kanwil Kemenag Kaltara, M Saleh.
Kepala Kanwil Kemenag Kaltara, M Saleh.
TANJUNG SELOR - Upaya menjaga toleransi dan moderasi umat beragama di Kalimantan Utara dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan, seiring tingginya tingkat keragaman agama dan etnis di provinsi tersebut. Kementerian Agama (Kemenag) Kaltara menilai dialog lintas umat beragama menjadi salah satu instrumen penting untuk mencegah potensi gesekan sosial.

Kepala Kantor Wilayah Kemenag Kaltara, M Saleh, mengatakan penguatan moderasi beragama tidak cukup dilakukan melalui pendekatan seremonial, melainkan harus dibangun lewat ruang dialog yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh lintas agama dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB).

“Dialog lintas agama akan terus kami lakukan di lima kabupaten/kota. Ini penting untuk menjaga komunikasi dan membangun saling pengertian di tengah keberagaman masyarakat,” ujar Saleh saat dikonfirmasi, Selasa (6/1).

Menurutnya, program kerukunan dan moderasi beragama merupakan bagian dari agenda prioritas Kementerian Agama pada 2026, sejalan dengan arah kebijakan nasional. Namun, implementasi di daerah tetap harus disesuaikan dengan karakter sosial masyarakat setempat.

“Kami memiliki program prioritas yang fokus pada kerukunan dan kemanusiaan. Tantangannya adalah bagaimana program itu benar-benar menyentuh masyarakat dan tidak berhenti pada tataran konsep,” katanya.

Saleh menyebut sejumlah kegiatan yang melibatkan lintas komunitas, termasuk kegiatan bersama lintas agama, menjadi sarana untuk memperkuat interaksi sosial. Ia menilai partisipasi masyarakat dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya ruang kolaborasi yang masih terbuka lebar.

“Ketika masyarakat dari berbagai latar belakang bisa terlibat dalam satu kegiatan, itu menunjukkan ada modal sosial yang bisa terus dirawat,” ujarnya.

Ia juga menilai keragaman agama dan etnis di Kalimantan Utara merupakan realitas sosial yang tidak bisa dihindari, sekaligus menuntut pendekatan kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan.

“Semua agama dan etnis ada di Kaltara. Ini kondisi yang perlu dikelola dengan baik agar tidak menjadi sumber konflik, tetapi justru menjadi kekuatan sosial,” jelasnya.

Meski demikian, Saleh mengingatkan bahwa menjaga toleransi bukan semata tugas pemerintah atau Kementerian Agama, melainkan membutuhkan peran aktif masyarakat, tokoh agama, dan organisasi sosial di tingkat lokal.

“Kerukunan tidak bisa dibangun hanya oleh satu pihak. Ini kerja bersama yang harus dijaga secara terus-menerus,” pungkasnya. (iwk/lim)

Editor : Azward Halim