Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengungkapkan, hasil pemantauan BMKG pada periode 29–31 Desember 2025 menunjukkan kejadian hujan lebat hingga sangat lebat di berbagai daerah.
“Berdasarkan pemantauan BMKG selama 29 hingga 31 Desember 2025, teridentifikasi hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Indonesia,” kata Sulam Khilmi kepada Radar Kaltara, Senin (5/1).
Ia merinci, hujan lebat tercatat di beberapa wilayah dengan intensitas cukup tinggi. “Hujan lebat tercatat di Ketapang, Kalimantan Barat sebesar 86,2 milimeter per hari, Kepulauan Bangka Belitung 95,8 milimeter per hari serta Bogor, Jawa Barat mencapai 99 milimeter per hari,” jelasnya.
Sementara itu, hujan dengan kategori sangat lebat juga teramati di sejumlah daerah lain. “Untuk kategori sangat lebat, hujan teramati di Sambas, Kalimantan Barat sebesar 123,6 milimeter per hari dan di Toraja, Sulawesi Selatan mencapai 100,2 milimeter per hari,” katanya.
BMKG juga mencermati keberadaan Siklon Tropis IGGY yang terpantau pada 1 Januari 2026 pukul 13.00 WIB di Samudra Hindia selatan Jawa.
“Siklon Tropis IGGY terpantau mengalami penguatan dengan kecepatan angin maksimum mencapai 40 knots dan bergerak ke arah tenggara menjauhi wilayah Indonesia,” ungkapnya.
Meski bergerak menjauh, sistem tersebut masih berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung. Siklon ini masih berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung berupa peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang di beberapa wilayah Indonesia.
"Selain pengaruh siklon, kondisi atmosfer Indonesia juga dipengaruhi oleh fenomena global dan regional lainnya. Dalam sepekan terakhir, dinamika atmosfer masih dipengaruhi oleh La Nina lemah, seruakan dingin atau cold surge, serta perambatan gelombang ekuator yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” jelasnya.
Di Kaltara, BMKG mengamati adanya sirkulasi siklonik yang berpotensi meningkatkan hujan. Saat ini teramati sirkulasi siklonik di Bumi Benuanta yang memicu daerah konvergensi dan konfluensi angin, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan. Dari sisi laut, suhu muka laut yang relatif hangat turut memperbesar suplai uap air.
“Suhu muka laut yang hangat di perairan Kalimantan Utara dan sekitarnya meningkatkan pasokan uap air yang dapat memicu hujan dengan intensitas lebih tinggi,” katanya.
BMKG juga memperkirakan adanya gelombang laut tinggi di sejumlah perairan.
“Gelombang dengan kategori tinggi, yakni 2,5 hingga 4 meter, diprediksi terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa, Bali hingga NTT, serta Selat Sunda bagian selatan,” ungkapnya.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan.
“Memasuki awal tahun 2026, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” pungkasnya. (jai/lim)