TANJUNG SELOR – Sejumlah komunitas di Kabupaten Bulungan membuka ruang pertemuan untuk komunitas perempuan pada peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP) dan kampanye One Day One Voice (ODOV) 2025.
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk talk show dan cipta karya seni daur ulang sampah dengan tajuk ‘Stop Kekerasan: Upaya Perempuan Melintasi Batas untuk Demokrasi”.
Tujuannya untuk menegaskan komitmen bersama dalam menghentikan segala bentuk kekerasan berbasis gender dan memperkuat peran perempuan dalam ruang demokrasi dan perlindungan lingkungan.
Momentum ini dianggap krusial mengingat dinamika pembangunan, perubahan tata ruang dan peningkatan aktivitas ekonomi di Kabupaten Bulungan yang berpotensi meningkatkan kerentanan perempuan terhadap kekerasan dan ketidaksetaraan.
Ketua PKK Bulungan, Sri Nur Handayani yang hadir sebagai salah satu pembicara pada kegiatan itu menyoroti peran strategis keluarga, kepemimpinan perempuan, hingga kebijakan lokal.
Termasuk bagaimana program PKK dapat menjadi garda terdepan pencegahan kekerasan di akar rumput dan mendorong keberanian perempuan untuk melapor.
“Perempuan hari ini perlu terus diberikan afirmasi positif, dengan peran dan tantangan yang ada. Tentu kami di PKK juga merumuskan sejumlah kegiatan yang mengarah pada perempuan, serta bagaimana melakukan pencegahan kekerasan terhadap perempuan,” ujar Sri di sela kegiatan yang berlangsung di Tanjung Selor, Jumat (5/12/2025).
Andika Mashrafi, salah satu politisi muda yang duduk di kursi Legislatif Bulungan memastikan dukungan bagi suara perempuan, salah satunya di tengah tantangan representasi politik serta strategi nyata untuk memastikan kebijakan daerah sensitif gender.
“Hari ini berbagai regulasi yang menjadi pegangan untuk mencegah kekerasan sudah ada, kami juga sempat membahas isu serupa dengan DP3AP2KB. Saat ini juga sudah ada Raperda Kabupaten Layak Anak yang salah satu sasaran adalah bagaimana mencegah pernikahan dini,” ungkapnya.
Sementara itu, Norjannah salah seorang aktivis perempuan Bulungan fokus memberikan pendapat terkait kondisi terkini mengenai isu kekerasan yang paling mengemuka di Bulungan, strategi efektif dalam mengorganisir perempuan agar berani bersuara.
“Kekerasan di Bulungan kalau melihat data masih berkisar 30-40 kasus dan setiap tahun trennya meningkat dengan berbagai bentuk, mulai dari verbel, hingga online. Tak hanya perempuan, hal ini juga terjadi terhadap anak,” sebutnya.
Harapannya kegiatan ini dapat menjadi ruang aman bagi perempuan Bulungan untuk memperkuat diri, memperluas jejaring, serta bergerak melintasi batas-batas sosial, budaya dan struktural yang menghambat kebebasan perempuan. (iwk/har)