Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

4 Desa di Bulungan Dilatih Susun Perencanaan Pesisir Berkelanjutan

Fijai RT • Kamis, 4 Desember 2025 | 14:17 WIB

 

BERI ARAHAN : Bupati Bulungan memberikan arahan dalam pelaksanaan penyusunan perencanaan pembangunan desa pesisir
BERI ARAHAN : Bupati Bulungan memberikan arahan dalam pelaksanaan penyusunan perencanaan pembangunan desa pesisir

TANJUNG SELOR - Empat desa di Bulungan mendapatkan pelatihan intensif penyusunan perencanaan pembangunan desa pesisir berkelanjutan.

Kegiatan yang digelar Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia bersama Pemkab Bulungan diikuti perangkat desa dan unsur masyarakat dari Desa Sekatak Buji, Sekatak Bengara, Salimbatu dan Liagu.

Bupati Bulungan, Syarwani menegaskan, pelatihan ini selaras dengan arah pembangunan daerah yang menekankan paradigma pembangunan hijau.

“Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen kita untuk memastikan pembangunan desa berjalan dengan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan,” kata Syarwani.

Pelatihan, sambung Syarwani, difokuskan untuk mempersiapkan revisi dokumen perencanaan desa sesuai perubahan UU Desa, sekaligus meningkatkan kapasitas peserta dalam membaca tantangan pembangunan di wilayah pesisir.

Peserta dibekali materi mengenai integrasi gender dan inklusi sosial, pemanfaatan potensi lokal, pengelolaan mangrove yang berkeadilan, hingga penyusunan RPJMDes yang berbasis keberlanjutan.

“Kemajuan Bulungan sangat ditentukan oleh kemajuan 10 kecamatan, termasuk desa pesisir yang menjadi penopang ekonomi daerah,” ungkapnya.

Syarwani menekankan pentingnya pelestarian mangrove sebagai benteng ekologis yang harus dijaga bersama.

Ia menegaskan bahwa meski banyak kawasan mangrove berada dalam area perhutanan, masyarakat pesisir tetap memiliki ruang hidup sehingga diperlukan kebijakan yang memberi akses dan perlindungan.

“Manfaat ekonominya boleh diambil, tetapi kelestarian mangrove tidak boleh dikorbankan,” tegasnya.

Lebih jauh, Syarwani menekankan peran masyarakat sebagai penjaga utama ekosistem pesisir.

“Masyarakat desa adalah yang paling memahami cara merawat mangrove karena mereka hidup berdampingan langsung dengan kawasan tersebut,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya program One Village One Product (OVOP) yang telah berjalan di Desa Siandau dan Liagu sebagai bagian dari pembangunan ekonomi hijau.

“Menjaga mangrove adalah amal jariah untuk anak-anak kita. Jika kita merawatnya hari ini, mereka akan merasakan manfaatnya di masa depan,” pungkasnya. (jai/har)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #Perencanaan Pesisir #Dilatih #bulungan #desa