TANJUNG SELOR – Laju inflasi di Bulungan bergerak naik. Badan Pusat Statistik (BPS) Bulungan mencatat inflasi year on year (yoy) pada November 2025 mencapai 2,86 persen, naik dari Indeks Harga Konsumen (IHK) 104,55 pada November 2024 menjadi 107,54.
Kepala BPS Bulungan Yuda Agus Irianto menjelaskan, inflasi dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.
“Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mencatat kenaikan tertinggi, yakni 9,13 persen,” kata Yuda kepada Radar Kaltara, Selasa (2/12).
Kemudian, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat kenaikan signifikan.
“Kelompok ini naik 8,64 persen, sementara makanan, minuman dan tembakau meningkat 2,81 persen,” ungkapnya.
Selain itu, kelompok kesehatan naik 0,94 persen, pendidikan 0,90 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,85 persen dan pakaian serta alas kaki 0,26 persen.
“Kenaikan ini merupakan kombinasi dari dorongan harga kebutuhan rumah tangga dan konsumsi harian,” jelasnya.
Meski begitu, tidak semua kelompok mencatat kenaikan. Yuda menyebut beberapa kelompok justru mengalami penurunan indeks.
“Perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun 3,66 persen, transportasi 2,25 persen, rekreasi olahraga budaya 1,22 persen, serta informasi komunikasi jasa keuangan 0,18 persen,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan BPS, beberapa komoditas memberikan kontribusi utama terhadap inflasi.
Tarif air minum PAM, emas perhiasan, ikan bandeng, sewa rumah, kopi bubuk, tomat, ikan tongkol, minyak goreng, rokok SKM dan bawang merah menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan.
"Sejumlah komoditas menahan laju inflasi. Angkutan udara, cabai rawit, bawang putih, jagung manis, daging ayam ras, kulkas, deterjen, pelembut pakaian, cabai merah dan sabun cuci piring berkontribusi menciptakan deflasi,” ujarnya.
Untuk inflasi month to month (mtm) sebesar 0,13 persen, komoditas yang memberi andil inflasi antar lain bawang merah, bayam, emas perhiasan, kangkung, popok sekali pakai, ikan tongkol, bawang putih, sawi hijau, ikan kembung dan terong.
“Cabai rawit, tomat, cabai merah, ikan kakap merah, beras, udang basah, kopi bubuk serta beberapa barang kebutuhan rumah tangga memberi andil deflasi,” jelasnya.
Secara rinci, kelompok yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan meliputi perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,91 persen.
“Makanan, minuman, dan tembakau ikut menyumbang 0,80 persen, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,57 persen,” ungkapnya.
Sementara kelompok yang memberikan andil deflasi adalah transportasi –0,32 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga -0,19 persen, rekreasi olahraga budaya –0,01 persen, serta informasi komunikasi-jasa keuangan 0,01 persen.
Yuda menegaskan bahwa fluktuasi harga pangan dan tarif rumah tangga masih menjadi faktor sensitif yang perlu diantisipasi.
“Kami mengimbau pemerintah daerah untuk memperkuat pengendalian harga dan menjaga pasokan komoditas strategis, terutama menjelang akhir tahun,” tegasnya.
Dengan dinamika harga yang masih berfluktuasi, BPS memastikan pemantauan akan terus diperketat.
“Kami akan memperbarui data secara berkala agar pemda dapat mengambil kebijakan yang cepat dan tepat,” pungkasnya. (jai/har)
Editor : Azwar Halim