TANJUNG SELOR – Menindaklanjuti laporan masyarakat terkait rencana pendirian Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia di Kaltara. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltara bakal melakukan penelitian.
Sekretaris MUI Kaltara, H. Alwan Saputra mengaku telah menerima sejumlah laporan dari masyarakat yang menyoroti konsep pesantren tersebut.
“Jadi ada beberapa laporan dari masyarakat terkait Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia yang rencananya akan dibangun di Kabupaten Tana Tidung dan Bulungan,” kata Alwan kepada Radar Kaltara, Kamis (6/11).
Menurutnya, MUI akan melakukan langkah resmi berupa penelitian dan kajian mendalam terhadap konsep pendirian lembaga tersebut.
“MUI Kaltara akan menindaklanjuti laporan masyarakat ini dengan mengadakan penelitian terhadap pendirian Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia tersebut,” tegasnya.
Berdasarkan informasi yang diterima, pesantren tersebut dikabarkan akan mengajarkan berbagai paham agama lintas keyakinan dalam satu lembaga pendidikan yang disebut ‘pesantren’.
“Informasinya, Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia ini dibangun untuk lintas agama. Mengajarkan semua paham agama dalam satu tempat yang dinamakan pesantren,” jelasnya.
Namun, lanjutnya, penggunaan istilah pesantren yang identik dengan pendidikan Islam menimbulkan pertanyaan dari masyarakat.
“Yang menjadi persoalan, pesantren ini identik dengan pendidikan Islam bagi santri untuk menempuh pendidikan Islam. Dengan adanya rencana pendirian seperti ini tentu merupakan sesuatu yang baru di Kaltara,” ujarnya.
Karena itu, MUI Kaltara akan menempuh langkah sesuai prosedur dalam menilai dan menyikapi pendirian lembaga tersebut.
“Kami akan membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti laporan ini dengan mempelajari dan mengambil tindakan sesuai kapasitas MUI,” ungkapnya.
Alwan mengakui bahwa konsep pesantren lintas agama ini terkesan ‘nyeleneh’ di mata masyarakat, namun MUI belum mengambil sikap resmi.
“Memang kesan dari pesantren ini agak nyeleneh, tetapi kami belum mengeluarkan fatwa apakah aliran ini dilarang atau tidak. Tentu semua itu akan dibahas lebih lanjut,” katanya.
Ia menegaskan, MUI Kaltara juga akan berkoordinasi dengan MUI Pusat untuk mendapatkan pandangan dan pedoman dalam menilai konsep pesantren tersebut.
“Kami juga akan melaporkan persoalan ini ke MUI Pusat,” ujarnya.
Selain itu, MUI Kaltara berencana memanggil pimpinan Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia untuk memberikan klarifikasi langsung.
“Kami akan memanggil pimpinan Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia agar dapat memberikan penjelasan terkait tujuan, konsep, dan arah pendidikan yang mereka jalankan,” pungkasnya. (jai/har)
Editor : Azwar Halim