TANJUNG SELOR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bulungan terus menggerakkan program nyata untuk menekan volume sampah plastik sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Melalui Bulungan Hijau, Pemda Bulungan menggencarkan edukasi, pelatihan serta pembentukan bank sampah dari tingkat RT hingga desa.
Plt Sekretaris DLH Bulungan, Indah Sriwati mengatakan, pengelolaan sampah kini menjadi isu krusial yang perlu ditangani bersama.
“Kami di DLH tidak pernah berhenti melakukan sosialisasi, edukasi dan pelatihan kepada masyarakat. Fokus utamanya adalah pengurangan sampah plastik yang menjadi persoalan besar di daerah,” kata Indah.
Ia menuturkan, salah satu strategi yang dilakukan DLH adalah mendorong terbentuknya bank sampah dan TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) di berbagai wilayah.
“Sekarang ini, di Bulungan sudah ada lima TPS3R dan tujuh bank sampah yang aktif, termasuk yang dikelola komunitas anak muda,”ungkapnya.
Indah menambahkan, dukungan pemerintah juga mengalir hingga ke tingkat desa. Salah satunya adalah pembentukan bank sampah di Desa Punan Dulau, yang kini menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
“Bank sampah di tingkat RT berfungsi untuk pelayanan langsung kepada warga, sedangkan TPS3R untuk tingkat desa, dan TPST untuk kecamatan. Dengan sistem berlapis ini, pengelolaan sampah bisa lebih efektif,” ujarnya.
Selain itu, DLH Bulungan juga menggelar lomba kebersihan lingkungan antar RT dan program Sekolah Adiwiyata yang terbukti mendorong perubahan perilaku warga dan pelajar dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Ada RT yang sudah memanfaatkan sampah plastik menjadi bahan bangunan ecobrick. Bahkan, beberapa RT telah memiliki bank sampah mandiri,”bebernya.
Ia menegaskan, pemerintah akan terus memberi dukungan fasilitas bagi warga yang telah disiplin memilah sampah.
“Jangan sampai warga sudah memilah sampah dengan baik, tetapi kemudian dicampur lagi di tempat pembuangan akhir. Karena itu, DLH memastikan TPA ke depan hanya menerima sampah residu,” tambahnya.
Langkah tersebut juga sejalan dengan program nasional. Bulungan Hijau yang menitikberatkan pada peningkatan sarana, prasarana dan partisipasi publik untuk mewujudkan lingkungan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Bulungan Khardiansyah menjelaskan bahwa pihaknya juga bertugas melakukan pemantauan kualitas air, udara, dan lahan di daerah.
“Kami sering disebut ‘avatar’, karena memang kami mengurusi tiga elemen penting. Air, udara dan lahan,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurutnya, DLH Bulungan berpedoman pada regulasi yang mengamanatkan penerbitan Persetujuan Teknis (Pertek) dan Surat Laik Operasi (SLO) bagi pengelolaan limbah dan emisi pelaku usaha.
“Kami pastikan pelaku usaha mematuhi baku mutu lingkungan dalam setiap kegiatan,” tegasnya.
Selain pengawasan, DLH juga aktif menjalankan program Kampung Iklim yang kini telah terbentuk di 18 hingga 20 desa di Bulungan.
“Program ini kami sinergikan dengan Bulungan Hijau. Dari enam indikator utama program tersebut, lima di antaranya terkait langsung dengan pengelolaan lingkungan,”bebernya.
Bulungan juga memiliki Kebun Raya Bundayati , kawasan konservasi ini menjadi satu-satunya kebun raya di Kalimantan Utara dan kini masuk dalam jaringan nasional di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Fungsinya bukan hanya konservasi, tetapi juga pendidikan, penelitian, wisata dan jasa lingkungan. Ini komitmen nyata pemerintah menjaga keseimbangan ekosistem,” ujarnya.
Sebagai inovasi daerah, DLH juga mengembangkan program ‘Sipatu Bulungan Hijau’, yakni sistem pemantauan tutupan lahan yang berperan dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup.
“Ada tiga indikator utama yang kami jaga kualitas air, udara dan tutupan lahan. Semua itu berhubungan langsung dengan kesehatan ekosistem Bulungan,” pungkasnya. (jai/har)
Editor : Azwar Halim