TANJUNG SELOR - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara (Kaltara) kembali merilis indeks harga konsumen (IHK) di Kaltara pada Oktober 2025.
Berdasarkan data yang dirilis BPS, secara m-to-m atau secara bulanan pada Oktober 2025, IHK di Kaltara mengalami inflasi sebesar 0,08 persen.
Demikian disampaikan Kepala BPS Kaltara, Mas'ud Rifai kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi usai pelaksanaan rilis di Tanjung Selor, Senin (3/11/2025).
"Ada tiga daerah yang jadi lokus kita untuk pengukuran inflasi di Kaltara, yakni Tarakan, Tanjung Selor dan Nunukan," ujar Mas'ud.
Dari tiga daerah tersebut, Tarakan dan Nunukan tercatat mengalami inflasi, sementara Tanjung Selor mengalami deflasi.
"Untuk Tarakan terjadi inflasi 0,16 persen, Nunukan inflaai 0,01 persen, sementara Tanjung Selor mengalami deflasi -0,02 persen," sebutnya.
Dilihat dari kondisi lapangan, harga pertanianitu relatif terjangkau. Ada tren penurunan untuk harga hasil pertanian. Ini terjadi karena fenomena di akhir tahun itu produksi bahan pertanian mengalami peningkatan.
"Sehingga harga cenderung turun. Kenapa Tanjung Selor mengalami deflasi? Itu karena di Tanjung Selor turunnya lebih dalam dibanding daerah lainnya (Tarakan dan Nunukan)," jelasnya.
Secara rinci, lima komoditas penyumbang inflasi tertinggi di Tarakan meliputi emas perhiasan sebesar 0,32 persen, ikan bandeng 0,11 persen, beras 0,02 persen, serta angkutan laut dan kangkung masing-masing 0,01 persen.
Untuk deflasinya disumbang oleh tomat dan kacang panjang masing-masing -0,03 persen, bawang merah -0,04 persen, angkutan udara -0,09 persen, serta cabai rawit -0,10 persen.
Kemudian untuk Tanjung Selor, lima komoditas penyumbang inflasi meliputi emas perhiasan 0,15 persen, ikan bandeng 0,11 persen, beras 0,04 persen, serta sewa rumah dan cabai rawit masing-masing 0,02 persen.
Deflasinya terdiri dari kangkung dan bayam masing-masing -0,04 persen, daging ayam ras -0,05 persen, bawang putih -0,07 persen, serta bawang merah-0,13 persen.
Sedangkan di Nunukan lima komoditas penyumbang tertinggi inflasinya meliputi emas perhiasan 0,09 persen, ikan kembung dan angkutan laut masing-masing 0,04 persen, serta daging ayam ras dan ikan bandeng masing-masing 0,03 persen.
Di Nunukan, deflasi tertingginya disumbang oleh cabai rawit dan bawang putih masing-masing-0,03 persen, tomat -0,05 persen, beras -0,08 persen, serta bawang merah 0,10 persen.
Untuk diketahui, jika dilihat dari kondisi inflasi tahun-tahun sebelumnya pada periode yang sama, inflasi bulanan provinsi ke-34 Indonesia di Oktober 2205 ini termasuk cukup landai. (iwk/har)
Editor : Azwar Halim