Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Realitas Kondisi Lembaga Ekonomi di Kawasan Transmigrasi Salimbatu: Semangat di Tengah Berbagai Tantangan

Radar Tarakan • Selasa, 28 Oktober 2025 | 13:51 WIB
Pelaksanaan FGD di SP5A Desa Salimbatu.  Sumber: Dokumentasi TEP Salimbatu UI
Pelaksanaan FGD di SP5A Desa Salimbatu. Sumber: Dokumentasi TEP Salimbatu UI

Penulis: Hasyim Asy’ari, M.Psi.T. dan Tim Ekspedisi Patriot Salimbatu UI

Bulungan -  Kawasan Transmigrasi Salimbatu di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, merupakan kawasan transmigrasi yang menjadi prioritas nasional. Sudah lebih dari satu dekade sejak kedatangan pertama transmigran ke kawasan ini.

Akan tetapi, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satu aspek yang cukup krusial adalah kondisi lembaga-lembaga ekonomi seperti koperasi, KWT, Poktan, dan UMKM yang menunjang kesejahteraan warga transmigran. Observasi yang dilakukan oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia menunjukan bahwa masih terdapat banyak permasalahan pada lembaga–lembaga ekonomi di kawasan ini.

Ekspedisi Patriot adalah salah satu program strategis Kementerian Transmigrasi yang bekerja sama dengan kampus-kampus terbaik di Indonesia yang bertujuan untuk memetakan potensi dari kawasan transmigrasi.

Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) yang diterjunkan ke Kawasan Transmigrasi Salimbatu memiliki misi untuk memetakan potensi kolaborasi lembaga ekonomi yang ada di kawasan tersebut. Untuk mencapai misi ini, Tim UI telah melakukan tiga kali diskusi kelompok terpumpun (FGD) di kawasan ini.

FGD pertama dilakukan di SP6B Desa Tanjung Buka, kemudian dilanjutkan di SP5, SP5A, dan SP6  Desa Salimbatu, dan yang terakhir kembali di Desa Tanjung Buka SP2, SP7, SP8, SP9, dan SP10.

Dengan berdialog langsung bersama pilar-pilar ekonomi di berbagai Satuan Permukiman (SP), mulai dari Koperasi, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Kelompok Wanita Tani (KWT), hingga pelaku UMKM, tim mendapatkan gambaran utuh mengenai kondisi di lapangan.

Koperasi: Potret Ganda Antara yang Solid dan yang Tumbang

Temuan di lapangan menunjukkan kondisi koperasi yang sangat bervariasi. Ada kisah sukses seperti di SP10, di mana koperasi masih aktif berjalan, sehat secara finansial, dan mampu membagikan Sisa Hasil Usaha (SHU) kepada anggotanya. Begitu pula Koperasi di SP6B yang dikenal solid dan rutin mengadakan pertemuan.

Namun, kondisi ini tidak merata. Di SP lain seperti SP7, SP8, dan SP9, koperasi dilaporkan sudah berhenti total atau kolaps. Nasib serupa dialami SP5 yang vakum sejak 2017 dan SP5A yang berhenti karena modal sedikit.

Penyebab utamanya adalah masalah klasik: banyak modal pinjaman yang macet atau tidak kembali dari anggota, serta terjadinya konflik internal yang berujung pada hilangnya data pembukuan.

Menariknya, para anggota sangat sadar akan kekurangan ini. Dalam diskusi, mereka secara terbuka menyatakan "butuh pendamping" yang ahli dalam manajemen dan akuntansi. Mereka juga merasa belum siap menerima bantuan teknologi digital, dan berharap ada pelatihan terlebih dahulu sebelum perangkat diberikan.

 

 

Gapoktan: Produktif Meski Belajar Mandiri dan Terkendala Pasar

Bersama Perwakilan Poktan dan Gapoktan Desa Tanjung Buka Sumber: Dokumentasi TEP Salimbatu UI
Bersama Perwakilan Poktan dan Gapoktan Desa Tanjung Buka Sumber: Dokumentasi TEP Salimbatu UI

Di sektor pertanian, semangat para petani di Gapoktan tetap tinggi. Namun, mereka menghadapi tantangan berlapis untuk bisa produktif. Masalah utama adalah hama, sementara bantuan obat-obatan yang diterima seringkali dirasa tidak sesuai dengan jenis hama yang menyerang. Kelangkaan pupuk subsidi dan minimnya alat pertanian modern seperti kultivator juga menjadi keluhan umum.

Minimnya pelatihan yang relevan memaksa petani mencari solusi sendiri. "Kami sering belajar mandiri dari Google, tapi ilmunya tidak selalu cocok karena kondisi tanah di Kalimantan berbeda dengan contoh di internet," ungkap seorang petani.

Tantangan terbesar muncul saat panen tiba. Harga jual hasil tani, seperti jagung dan cabai, sangat ditekan oleh tengkulak. Petani mengaku tidak punya pilihan lain karena buruknya akses jalan dan mahalnya biaya transportasi sungai untuk menjual hasil panen langsung ke pasar kota. Selain itu, masalah legalitas lahan seperti sertifikat yang belum jelas, tertukar, atau hilang karena sengketa dan erosi, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

KWT dan UMKM: Kreativitas yang Terhambat Modal dan Pemasaran

Bersama Perwakilan KWT dan UMKM SP6B Desa Tanjung Buka Sumber: Dokumentasi TEP Salimbatu UI
Bersama Perwakilan KWT dan UMKM SP6B Desa Tanjung Buka Sumber: Dokumentasi TEP Salimbatu UI

Di sektor usaha mikro, kreativitas warga tidak perlu diragukan. Pelaku UMKM memproduksi berbagai olahan, mulai dari rengginang ketan, keripik pisang, amplang, lanting singkong, bakso dan nugget ikan, hingga usaha katering, sembako, dan gorengan.

Meski demikian, hampir semua pelaku UMKM yang hadir dalam FGD mengaku belum memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha) atau masih dalam proses mengurus. Kendala utama mereka untuk berkembang adalah sulitnya mendapatkan modal usaha dan keterbatasan peralatan produksi.

Kondisi serupa terlihat di Kelompok Wanita Tani (KWT). Hanya beberapa KWT yang aktif berproduksi, seperti KWT di SP7 yang membuat peyek dan SP6B yang mengolah aneka produk tani. Sebagian besar KWT lainnya diakui vakum karena berbagai alasan, terutama sulitnya koordinasi antar anggota.

Sebuah paradoks ditemukan di mana banyak KWT yang sering mendapat pelatihan pengolahan hasil tani, namun mereka memilih untuk tetap fokus bertani. Hal ini disinyalir karena mengolah produk menjadi barang jadi dirasa lebih berisiko dan sulit dipasarkan, kembali karena terkendala biaya transportasi yang mahal.

Dari temuan ini, Tim Ekspedisi Patriot UI mencatat bahwa semangat dan potensi ekonomi di Kawasan Transmigrasi Salimbatu sangat besar. Namun, untuk mengembangkannya, diperlukan solusi konkret atas tiga masalah utama: perbaikan infrastruktur transportasi untuk membuka akses pasar, pendampingan manajemen dan keuangan yang intensif bagi koperasi, serta bantuan modal dan pelatihan teknis yang relevan bagi UMKM dan Gapoktan.

Editor : Azwar Halim
#kaltara #bulungan