TANJUNG SELOR - Sampah telah menjadi masalah serius di Indonesia. Pada musim penghujan seperti saat ini, sampah yang menumpuk di sungai bisa menimbulkan potensi bencana banjir.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Utara (Kaltara), Hairul Anwar mengatakan, sampah yang tidak terkelola di lingkungan masyarakat dapat menjadi sarang berbagai vektor penyakit dan menimbulkan bau yang tidak sedap.
"Jalan keluar untuk permasalahan sampah sepertinya juga belum ada titik terang, setiap tahun sampah yang dihasilkan oleh manusia semakin meningkat, sedangkan jumlah TPA (tempat pembuangan akhir) sangat terbatas," ujar Hairul kepada Radar Tarakan, Kamis (2/10/2025).
Untuk di Kaltara, potensi produksi sampah sekitar 146.768,22 ton per tahun dengan komposisi sekitar 60 persen merupakan sampah organik dan 40 persen merupakan sampah anorganik. Jumlah ini, sekitar 57 persen berasal dari rumah tangga.
Supaya jumlah sampah yang dibuang di tempat pembuangan sampah (TPS) dapat ditekan, pengelolaan sampah khususnya anorganik di level rumah tangga menjadi upaya yang sangat bisa dilakukan.
"Tentu hal ini dapat dilakukan dengan sinergi dan kolaborasi dengan semua pihak, mulai dari pemerintah, pegiat lingkungan, maayarakat serta dunia usaha dan industri," katanya.
Kampanye budaya hidup 3R (reduce, reuse dan recycle) menjadi pilihan yang sederhana, namun efektif untuk menekan laju penambahan sampah.
"Khususnya sampah plastik apabila kita bisa menerapkan prinsip tersebut secara konsisten di dalam kehidupan kita sehari-hari," tuturnya.
Berbelanja mengunakan tas kain, membawa air minum isi ulang, mendaur ulang sampah plastik menjadi barang yang berguna serta ecobrick merupakan contoh implementasi budaya 3R.
Ecobrick atau bata ramah lingkungan merupakan botol plastik yang diisi dengan sampah-sampah plastik dengan kepadatan tertentu yang kemudian disusun atau dirangkai menjadi sebuah benda atau bangunan.
Menurutnya, ini bukan hanya tentang mendaur ulang, melainkan tentang mengelola sampah di sumbernya, alih-alih membuang sampah plastik begitu saja ke tempat pembuangan akhir.
"Kita diajak untuk bertanggung jawab atas sampah yang kita hasilkan ecobrick sangat ampuh untuk mengurangi jumlah sampah plastik, dari hasil praktik dari satu kardus sampah plastik dapat diringkas menjadi 3 botol ecobrick," bebernya.
Sifat sampah plastik yang tidak bisa terurai membuat ecobrick menjadi bahan bangunan yang tidak dapat lapuk dan tentunya sangat ramah lingkungan.
Ecobrick membuktikan bahwa sampah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kreativitas dan perubahan.
Kesimpulannya, ecobrick mampu menjadi salah satu cara sederhana pengurangan sampah plastik yang terus diproduksi setiap hari sehingga sangat perlu untuk disosialisasikan.
"Meskipun tidak mampu menjadi solusi utama permasalahan sampah, tapi dengan ecobrick kita sedikit berkontribusi menyelamatkan bumi dari tumpukan sampah. Semoga ini membawa manfaat bagi Kaltara dan Kaltara Zero Waste tahun 2029 dapat tercapai," pungkasnya. (iwk/har)
Editor : Azwar Halim