Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Bermula dari Hobi Nonton Drakor, Inilah Kisah Alma Titian, Mahasiswi Asal Kaltara yang Raih Beasiswa Penuh S2 di Korea Selatan

Radar Tarakan • Jumat, 12 September 2025 | 14:21 WIB
Alma Titian
Alma Titian

Bulungan – Di balik prestasi gemilang seorang anak muda, selalu ada cerita panjang penuh perjuangan.

Begitu pula dengan Alma Titian, gadis kelahiran 2001 asal Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara, yang kini tengah menempuh studi S2 di University of Ulsan, Korea Selatan, jurusan Politics and Diplomacy melalui beasiswa penuh Global Korea Scholarship (GKS).

Alma, yang akrab disapa Alma, sebelumnya menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Keputusan merantau sejak awal kuliah bukan hal mudah baginya, namun justru menjadi titik awal perjalanan panjang menuju luar negeri.

“Saya percaya merantau adalah cara untuk belajar mandiri. Saat jauh dari keluarga, kita dipaksa mengurus diri sendiri, dan itu membuka banyak kesempatan baru,” ungkapnya saat dihubungi Radar Tarakan.

Selama kuliah S1, Alma sempat ragu dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Namun, hasil tes IELTS memberi kepercayaan diri baru.

Ia pun memberanikan diri mendaftar GKS, program beasiswa penuh dari pemerintah Korea Selatan yang mencakup biaya kuliah, pelatihan bahasa Korea selama setahun, hingga biaya hidup.

“Perjalanan pendidikan itu bukan sesuatu yang instan. Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya, tapi prosesnya penuh jatuh bangun. Saya juga pernah merasa tidak percaya diri. Kuncinya konsistensi, melangkah sedikit demi sedikit,” ceritanya.

Alasan Alma memilih Korea?

“Awalnya saya suka menonton drama Korea, jadi sedikit banyak mengenal kosakata bahasa Korea. Dari situ, saya mencari tahu lebih jauh dan menemukan bahwa GKS menyediakan pelatihan bahasa Korea selama satu tahun. Hal itu membuat saya semakin yakin untuk melanjutkan studi ke Korea,” ucapnya.

Proses hingga diterima di University of Ulsan?

“Saya mempelajari daftar universitas yang termasuk dalam program GKS, lalu meneliti jurusan dan keunggulan masing-masing kampus. Akhirnya saya memilih University of Ulsan. Selain termasuk universitas terbaik, kota Ulsan dikenal sebagai pusat industri besar di Korea. Saya melihat ini sebagai peluang besar untuk nantinya bekerja di bidang bisnis internasional,” lanjutnya.

Bagaimana kehidupan sehari-hari di Korea sebagai mahasiswa Indonesia?
Kini Alma menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa internasional di Korea. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah adaptasi makanan dan bahasa.

“Awalnya saya sulit makan, bahkan sampai sakit. Saya harus selalu membaca bahan makanan untuk memastikan tidak ada kandungan babi. Soal bahasa, awal datang saya benar-benar tidak bisa, tapi pelatihan bahasa selama setahun sangat membantu,” ujarnya.

Apa perbedaan paling mencolok antara kuliah di Indonesia dan di Korea?

“Perbedaannya ada pada budaya belajar. Mahasiswa Korea terkenal sangat disiplin. Perpustakaan buka sampai larut malam, bahkan di akhir pekan tetap penuh. Banyak mahasiswa bisa duduk belajar dari pagi hingga malam, hanya berhenti sebentar untuk makan. Itu hal yang jarang saya temui di Indonesia.”

Apa tantangan terbesar yang pernah dihadapi selama perjalanan akademik dari S1 hingga S2, dan bagaimana mengatasinya?

“Tantangan terbesar adalah mempertahankan IPK. Sejak awal, target saya adalah lulus dengan predikat cum laude. Itu membuat saya harus berusaha keras menjaga nilai di setiap semester, baik dari presentasi, proyek, maupun ujian. Alhamdulillah, saya tidak hanya meraih target itu, tapi juga terpilih sebagai lulusan terbaik. Momen paling berharga adalah saat bisa membuat orang tua duduk di barisan depan melihat saya di prosesi wisuda.”

Meski jauh dari rumah, Alma selalu teringat cita-citanya.

“Saya ingin suatu hari bisa memberikan kontribusi untuk Indonesia, khususnya Kalimantan Utara. Pendidikan bisa membawa perubahan besar,” tegasnya.

Bagi Alma, pencapaiannya ini bukan hanya tentang dirinya. Ia ingin menjadi contoh nyata bahwa anak muda dari perbatasan pun bisa bersaing di kancah internasional.

“Saya harap anak-anak muda Bulungan dan Kaltara berani bermimpi besar. Jangan minder hanya karena berasal dari daerah. Kegigihan dan ketekunan adalah kunci. Sekecil apa pun langkahmu, itu akan membawamu lebih dekat dengan impian,” pesannya penuh semangat.

Ke depan, Alma berencana mencari pengalaman kerja di Korea. Namun cita-cita terbesarnya adalah menjadi dosen, sehingga ia sudah menyiapkan langkah melanjutkan pendidikan hingga S3.

Dari Tanjung Selor hingga Ulsan, perjalanan Alma menjadi bukti bahwa tekad, doa, dan konsistensi bisa membawa anak perbatasan menuju mimpi yang mendunia. (Eru)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #korea selatan #s2 #beasiswa #bulungan