TANJUNG SELOR – Perumda Air Minum Danum Benuanta menargetkan pembangunan pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) rampung dalam waktu tiga bulan.
Pabrik yang akan memproduksi air kemasan bermerek Danumta ini ditargetkan bisa di-launching tepat pada peringatan HUT ke-235 Kota Tanjung Selor dan HUT ke-65 Bulungan pada 12 Oktober 2025 mendatang.
Direktur Perumda Air Minum Danum Benuanta, Eldiansyah menyampaikan, proyek AMDK sepenuhnya berada di bawah manajemen internal Perumda.
“Strukturnya sebagai sub unit, dengan hanya tiga personel inti yang mengelola. Yakni, kepala unit, administrasi dan teknis. Sisanya menggunakan sistem outsourcing. Tapi untuk awal, kami masih memberdayakan tenaga internal Perumda,” kata Eldiasnyah kepada Radar Kaltara, Jumat (11/7).
Distribusi produk akan dikelola oleh PT Bulungan Persada Mandiri (Perseroda).
“Kami akan memproduksi sesuai permintaan dari Perseroda sebagai distributor. Skema ini sudah kami koordinasikan,” jelasnya.
Kapasitas awal produksi ditargetkan sebesar 5 liter per detik, atau setara 2.400 botol per jam. Saat ini, fokus produksi difokuskan pada kemasan botol kecil 300 mililiter (ml) , disusul ukuran sedang dan besar. Sementara itu, kemasan gelas masih ditunda menyesuaikan momen dan permintaan pasar.
“Gelas ini biasanya banyak dibutuhkan saat momen tertentu seperti 17 Agustus atau event sosial. Jadi kami akan produksi berdasarkan momentum,” katanya.
Proyek pabrik AMDK Danumta menelan investasi hampir Rp 10 miliar, terdiri dari Rp 5,1 miliar untuk bangunan dan Rp 3,9 miliar untuk mesin produksi. Eldiansyah menyebut, seluruh proses pembangunan sudah masuk tahap pengerjaan dan tinggal perakitan mesin.
“Target tiga bulan kami optimis bisa tercapai. Begitu struktur atap selesai, mesin bisa langsung masuk dan dirakit. Semuanya sudah didesain untuk pengerjaan simultan,” ungkapnya.
Uji rasa produk belum dilakukan, namun Eldiansyah memastikan air yang diproduksi akan memenuhi standar rasa dan PH sesuai selera lokal.
“Kita punya mesin ozon untuk menentukan kualitas rasa. Nantinya akan diuji oleh tim laboratorium, agar sesuai dengan karakteristik masyarakat Bulungan,” tambahnya.
Air baku berasal dari sumber air yang telah melalui proses filtrasi di instalasi pengolahan air IPA Sabanar Lama, sehingga kualitas air sudah memenuhi syarat untuk diolah kembali menjadi air minum kemasan.
Harga pokok produksi (HPP) untuk kemasan 300 ml ditetapkan sebesar Rp 30.000. Namun Perumda tidak melakukan penjualan langsung ke pasar. Distribusi dan penetapan harga eceran sepenuhnya berada di tangan distributor.
“Kami hanya memproduksi. Penjualan dikelola oleh PT Perseroda atau mitra resmi lain. Berdasarkan survei pasar kami, harga eceran di toko bisa mencapai Rp 45.000,” ungkapnya.
Sesuai regulasi, Perumda hanya bertindak sebagai produsen dan tidak diperkenankan melakukan penjualan langsung ke masyarakat.
Untuk tahap awal, distribusi produk difokuskan di wilayah Bulungan. Potensi ekspansi ke luar daerah akan ditentukan oleh pihak distributor.
“Sesuai arahan Bupati, tahap awal kita penuhi kebutuhan lokal dulu. Kalau berkembang, baru kita bidik pasar Kaltara,” pungkasnya. (jai/har)