Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Perempuan Adat Long Pelban Menyuarakan Perlawanan Melalui Pameran Virtual

Iwan RT • Jumat, 30 Mei 2025 | 17:25 WIB
PERLAWANAN: Pameran virtual suara perempuan adat Long Pelban. FOTO: ISTIMEWA
PERLAWANAN: Pameran virtual suara perempuan adat Long Pelban. FOTO: ISTIMEWA

TANJUNG SELOR - Di tengah bayang-bayang pembangunan yang terus menggerus ruang hidup masyarakat adat, sebuah suara dari hulu Sungai Kayan akhirnya terdengar jelas mengalir melalui layar-layar digital dan mengetuk kesadaran kita semua.

Kali ini, Inaya Kayan Indonesia secara resmi melakukan pameran virtual 'Suara dari Hulu: Tubuh, Alam dan Perlawanan Perempuan Uma’ Kulit', sebuah ruang kolektif yang menyuarakan kisah perempuan adat Long Pelban.

Mereka yang selama ini tidak diberi ruang dalam proses pembangunan, tapi tidak pernah berhenti menjaga tanah, tubuh dan sejarahnya. Pameran ini bukan hanya tempat memajang karya seni, melainkan ruang hidup digital yang memuat napas-napas perlawanan.

Di tengah ancaman Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan di Peso, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara) dan ekspansi industri lainnya yang mengabaikan keberadaan masyarakat adat, karya-karya ini muncul dari keberanian yang diwariskan antar generasi.

"Perempuan Long Pelban bukan penonton dalam pembangunan. Mereka adalah penjaga hutan, perawat ladang dan penentu musim. Tapi suara mereka diabaikan. Melalui pameran ini, kami menolak untuk dilupakan," ujar Meta Septalisa, Ketua Inaya Kayan Indonesia.

Sepuluh seniman muda Kalimantan menyumbangkan karya yang menggambarkan kekacauan, kehilangan dan harapan dalam pameran ini.

Instalasi, ilustrasi digital, patung tanah liat dan karya video menggambarkan keterhubungan antara tubuh perempuan dan alam, serta ancaman yang mereka hadapi ketika ruang hidup mereka dialihfungsikan atas nama kemajuan.

Salah satu segmen tidak kalah menyentuh adalah Points of Listening, yaitu rekaman suara hutan Kalimantan Tengah selama 24 jam penuh, sebuah pengalaman imersif yang mengajak pengunjung tidak hanya melihat, tapi juga mendengar suara alam yang perlahan dibungkam deru mesin.

"Kami ingin mengajak publik untuk tidak hanya menyaksikan, tapi juga mendengar, merasakan dan bergerak bersama. Karena keadilan iklim hanya mungkin jika kita menghormati pengetahuan lokal dan memulihkan suara perempuan," pungkasnya. (iwk/har)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #Menyuarakan Perlawanan #Pameran Virtual #Perempuan Adat Long Pelban #tanjung selor #bulungan