TANJUNG SELOR — Bupati Bulungan, Syarwani menegaskan bahwa Pemkab Bulungan saat ini lebih memfokuskan diri pada peningkatan kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap bencana banjir dibandingkan opsi relokasi warga.
Hal ini disampaikan menyusul banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Bulungan beberapa pekan lalu.
Syarwani mengungkapkan, banjir besar pernah terjadi pada tahun 2015, disusul banjir skala lebih kecil pada 2017. Kejadian serupa kembali terjadi tahun ini, dipicu oleh meningkatnya intensitas curah hujan.
“Evaluasi kita saat ini adalah bagaimana meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat respons tanggap darurat dari sisi pemerintah daerah ketika banjir terjadi,” kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Kamis (29/5).
Ia menilai, edukasi kepada masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir menjadi langkah krusial. Beberapa kecamatan seperti Tanjung Selor, Peso, Peso Hilir dan Tanjung Palas Barat disebut sebagai daerah yang perlu perhatian khusus karena kerentanannya terhadap banjir.
"Di Tanjung Selor ada beberapa titik yang rawan banjir. Salah satunya, di Buluh Perindu," ungkapnya.
Terkait kemungkinan relokasi warga yang bermukim di kawasan rawan, Syarwani menyebut hal itu belum menjadi prioritas saat ini.
Pemkab Bulungan mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, terutama yang berada di wilayah hulu Sungai Kayan.
“Kalau pun harus relokasi, tentu harus mempertimbangkan kondisi masyarakat. Tapi yang terpenting saat ini adalah bagaimana pemerintah bisa cepat merespons saat bencana terjadi. Karena kita tidak mungkin bisa mengendalikan alam,” pungkasnya. (jai/har)
Editor : Azwar Halim