TANJUNG SELOR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar rapat koordinasi (rakor) penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bersama dengan BPBD kabupaten/kota se-Kaltara dan pihak terkait lainnya di Tanjung Selor, Kamis (15/5/2025).
Menurut Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kaltara, Andi Amriampa, langkah ini dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan terhadap adanya peringatan dini yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait dengan prakiraan cuaca pada Juli nanti memasuki masa kekeringan.
“Di sini kita lakukan pendekatan pentahelik dengan melibatkan unsur pemerintah, pengusaha, akademisi, masyarakat dan media masa,” ujar Andi Amriampa kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi, Jumat (16/5/2025).
Terkait dengan daerah-daerah yang berpotensi terjadi bencana karhutla di provinsi ke-34 Indonesia ini, sejak tahun-tahun sebelumnya itu sudah terpetakan. Untuk menyiokapi hal itu, ke depan pihaknya ingin lebih meningkatkan kolaborasi dalam hal penanganan.
“Jadi di lapangan ini perlu ada sinergitas antara semua unsur terkait. Terutama teman-teman di wilayah desa, karena di situ ada desa tangguh bencana hingga masyarakat peduli api,” tuturnya.
Sementara untuk daerah rawan di Kaltara ini, terpantau ada dua kabupaten, yakni Nunukan dan Bulungan. Tapi, jika dilihat lebih mendalam, untuk sementara ini tren potensi karhutla tertinggi itu ada di Kabupaten Bulungan.
Hanya saja, lanjut Andi Amriampa, potensi itu tidak merata se-Bulungan, karena dalam titik hot spot yang terpantau di BMKG itu hanya di sebagian wilayah Tanjung Palas Timur.
“Kalau kita, langkah pertama itu pencegahan. Kita lakukan mitigasi, sosialisasi hingga pelatihan. Termasuk cek peralatan untuk memastikan semua dalam kondisi baik, serta kesiapan personel yang dimungkinkan dimobilisasi dalam rangka penganganan karhutla,” pungkasnya. (iwk/har)
Editor : Azwar Halim