Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Melihat Tradisi Uwad Warga Kampung Arab di Tanjung Selor, H. Achmad Djufrie: Sudah Ada Sejak Saya Kecil

Iwan RT • Rabu, 2 April 2025 | 20:52 WIB
IDULFITRI: Ketua DPRD Kaltara, H. Achmad Djufrie menerima kunjungan Uwad di rumahnya. FOTO: IWAN K/RADAR TARAKAN
IDULFITRI: Ketua DPRD Kaltara, H. Achmad Djufrie menerima kunjungan Uwad di rumahnya. FOTO: IWAN K/RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR – Hari raya Idulfitri merupakan momentum yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam setiap tahunnya. Setelah sebulan penuh berpuasa menahan hawa nafsu di bulan Ramadan, tibalah saatnya menyambut hari kemenangan.

Dalam menyambut lebaran ini, ada banyak tradisi yang dijalankan di masyarakat di Indonesia, tak terkecuali di Tanjung Selor Ibu Kota Kalimantan Utara (Kaltara). Salah satunya tradisi Iwadh atau Uwad yang setiap Idulfitri dilaksanakan warga Kampung Arab, Tanjung Selor.

Kata Iwadh ini berasal dari Bahasa Arab ada-yaudu-audan yang berarti kembali (suci). Artinya, ini menjadi media kembali bagi jamaah yang selama ini tidak pernah atau jarang sekali bertemu.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara, H. Achmad Djufrie yang merupakan bagian dari warga Kampung Arab itu mengatakan bahwa tradisi Uwad ini sudah dilaksanakan oleh warga Kampung Arab sejak lama.

“Di kami, ini sudah ada sejak saya kecil, dari SD, SMP, SMA sampai sekarang, budaya berkunjung dari rumah satu ke rumah yang lainnya itu sudah memang ada menjadi tradisi kami. Itu disebut Uwad,” ujar Achmad Djufrie kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi, Rabu (2/4/2025).

Ini khusus dilakukan pada komunitas Kampung Arab, baik itu warga yang keturunan Arab maupun yang lainnya, semua sama-sama mengikuti tradisi Uwad ini untuk berkunjung dan bersilaturahmi ke tiap-tiap rumah warga.

“Ini tradisi yang baik, karena tidak semua daerah yang mempunyai budaya dan kebiasaan yang seperti ini,” kata pria yang juga Penasihat Rabithah Alawiyah Kaltim-Kaltara ini.

Oleh karena itu, budaya dan tradisi yang baik ini harus dipertahankan untuk selalu dilaksanakan setiap lebaran.

“Kalau dulu, orang tua kita itu lebih rapi, lebih tertib, karena mereka selalu pakai jas kalau ikut Uwad ini. Sekarang mungkin ada campur anak-anak, kalau dulu tidak ada anak-anaknya. Tapi tidak masalah, yang penting tradisi ini tetap ada dan dipertahankan,” tuturnya.

Ajang silaturahmi ini tidak memberatkan, karena warga itu hanya naik ke rumah dengan membaca selawat dan membaca doa-doa, itu langsung bergeser lagi ke rumah yang lainnya. Jika diberikan sesuatu, itu akan diterima.

Dalam hal ini, ada bermacam-macam pemberiannya, ada minuman kaleng, indomie, pasta gigi, perabot rumah tangga, peralatan shalat dan lain-lain. Itu cukup yang harganya murah dengan cukup satu orang satu.

“Tapi sebenarnya bukan dari (pemberian) itu yang dicari, melainkan silaturahminya itu yang kita butuhkan. Saling kunjung dan saling bermaaf-maafan,” pungkasnya. (iwk/har)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #Uwad Warga Kampung Arab #tradisi #tanjung selor #bulungan