TANJUNG SELOR – Angkutan perintis laut di Kalimantan Utara (Kaltara) terdiri dari dua jenis, yakni tol laut dan KM Sabuk Nusantara.
Khusus untuk KM Sabuk Nusantara, itu rutenya Tolitoli - Tarakan dengan mengangkut orang dan barang. Hanya saja, jarak tempuh dari Sabuk Nusantara ini tidak jauh karena ada batasannya.
Plt. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltara, Andi Nasuha mengatakan, keberadaan angkutan perintis laut Tolitoli - Tarakan dinilai sebagai ‘pahlawan’ bagi Kaltara, karena kebutuhan sembako masyarakat diangkut menggunakan itu.
“Keberadaan dari Sabuk Nusantara ini sangat membantu bagi Kaltara, karena kebutuhan sembako dari Sulawesi itu diangkut menggunakan kapal tersebut,” ujar Andi Nasuha kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi, Kamis (13/2/2025).
Menurutnya, layanan ini sudah berjalan beberapa tahun terakhir ini.
Tentu ini sangat membantu bagi masyarakat di provinsi ke-34 Indonesia ini, karena sembako yang dari Sulawesi itu sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan di Kaltara, khususnya di Tarakan dan Bunyu.
“Kalau di tahun 2024 lalu, total barang dari beberapa jenis yang masuk ke Kaltara, baik ke Tarakan maupun ke Bunyu itu sekitar 400 ton. Ini sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat di Bunyu dan Tarakan,” katanya.
Bahkan, lanjut Andi Nasuha, untuk biaya angkutan orang juga hanya sekitar Rp 50 ribu per orang. Artinya, keberadaan dari angkutan perintis laut ini masih sangat membantu meringankan masyarakat.
Untuk tahun 2024 lalu, KM Sabuk Nusantara ini melayari rute Tarakan - Bunyu - Tolitoli. Akan tetapi, saat ini tengah diusulkan agar rutenya diubah langsung dari Tarakan, Kaltara ke Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng).
“Ini karena penumpang dari Tarakan ke Bunyu itu juga tidak ada. Makanya kita mau usulkan dari Tarakan langsung ke Tolitoli. Nanti pas ke sininya (dari Tolitoli) baru singgah di Bunyu,” pungkasnya. (iwk/har)
Editor : Azwar Halim