TANJNG SELOR – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat partisipasi pemilih pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kaltara tahun 2024 sebesar 68,08 persen dari jumlah pemilih yang ada.
Berdasarkan data yang ada, partisipasi ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Pilkada Kaltara tahun 2024 sekitar 8 persen. Terlebih jika dibandingkan dengan partisipasi pemilih pada Pemilihan Umum (Pemilu) Kaltara 2024 yang mencapai 81 persen.
Dikonfirmasi terkait hal itu, Ketua KPU Kaltara, Hariyadi Hamid mengaku bahwa partisipasi pemilih di Pilkada Kaltara 2024 memang lebih rendah dari yang diharapkan. Menurutnya, da banyak faktor penyebabnya, baik itu secara eksternal maupun internal.
“Memang variabel yang banyak berperan ini adalah faktor eksternal. Kalau kita bandingnya dengan Pemilu, kenapa lebih tinggi, itu karena jumlah aktor yang terlibat, mulai dari calon hingga tim dan relawannya itu lebih banyak,” ujar Hariyadi kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi, Jumat (10/1/2025).
Kemudian jika dilihat dari sisi intensitas kampanye yang dilakukan, itu salah satunya karena keterbatasan dari tiga pasangan calon (paslon) di Pilkada Kaltara tahun 2024 ini, yang mana tidak semuanya masif melaksanakan kampanye.
Termasuk karena orang datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk mencoblos itu adalah hak, bukan kewajiban. Sehingga menjadi hak bagi pula bagi setiap orang untuk datang memilih atau tidak.
Tapi, lanjut Hariyadi, pada prinsipnya kalau partisipasi pemilih masih di atas 50 persen, itu legitimasinya masih memungkinkan. Karena itu artinya lebih dari setengah jumlah pemilih masih menginginkan adanya pemilihan kepala daerah.
“Karena jika dilihat dari tingkat partisipasi pemilih, lebih dari 50 persen pemilih itu datang mencoblos atau memilih ke TPS,” tuturnya.
Jika dilihat dari faktor internal, Hariyadi menegaskan bahwa upaya-upaya sudah dilakukan secara maksimal oleh pihaknya dalam rangka meningkatkan partisipasi pemilih pada Pilkada Kaltara tahun 2024 ini.
“Kami punya data hasil Pilkada 2020 dan Pemilu 2024 lalu. Di situ kita punya titik-titik yang partisipasinya masih rendah dan sebagainya, sehingga dilakukan upaya edukasi dan lain sebagainya. Artinya upaya-upaya optimal sudah kita lakukan,” pungkasnya. (iwk/har)
Editor : Azwar Halim