TANJUNG SELOR - Setiap tanggal 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila sebagai bentuk penghormatan terhadap dasar negara dan ideologi bangsa.
Tak terkecuali, peringatan hari kesaktian tersebut berlangsung di wilayah Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
Menurut informasi dari laman resmi Kementerian Sekretariat Negara, Hari Kesaktian Pancasila diperingati sesuai dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 153 Tahun 1967. Keputusan tersebut disahkan oleh Presiden Soeharto di Jakarta.
Lalu apakah ada keterkaitan antara Hari Kesaktian Pancasila dan Peristiwa G30S/PKI Sebagaimana diketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara yang menganut ideologi Pancasila.
Dirujuk dari laman resmi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, Pancasila merupakan dasar negara Indonesia.
Kedudukannya kuat dan tidak dapat diubah dengan landasan alinea keempat Pembukaan UUD 1945 secara eksplisit.
Di sisi lain, sebagaimana dikutip dari buku Pierre Tendean karya Masykuri, PKI menginginkan bumi nusantara menganut paham komunis.
Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya ide penculikan dan pembunuhan jenderal-jenderal TNI Angkatan Darat kala itu.
Sebab, tokoh-tokoh ini dianggap menghalangi cita-cita PKI untuk mendirikan sebuah negara komunis.
PKI berharap, dengan disingkirkannya sejumlah tokoh Angkatan Darat, tentara bisa dikuasai dan disetir untuk kepentingannya.
Sebelum mulai mengeksekusi para jenderal tersebut, PKI telah banyak melakukan persiapan, di antaranya adalah mempersiapkan daerah-daerah basis, melakukan infiltrasi ke lembaga-lembaga negara, dan melakukan penetrasi ke organisasi politik/massa.
Setelah persiapan dianggap matang, dengan mempertimbangkan kondisi internal Angkatan Darat yang sedang repot, PKI melancarkan aksinya.
Sejumlah jenderal didatangi di rumahnya, lalu diculik dan dibunuh. Selain itu, PKI juga menduduki beberapa pos lainnya, seperti pangkalan RRI (Radio Republik Indonesia).
Beruntungnya, tindakan cepat Panglima Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto dan Pangdam V Jaya Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah serta tentunya anggota RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) berhasil menumpas seluruh kekuatan fisik PKI di Jakarta. Hal ini menunjukkan 'kesaktian' Pancasila yang ingin diubah dengan komunisme.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Pengadilan Agama Jombang, pada masa orde baru, terdapat ritual pengibaran bendera untuk mengenang peristiwa ini.
Pada 30 September, bendera akan dikerek setengah tiang. Lalu, keesokan harinya, yakni 1 Oktober, bendera dinaikkan sampai ke atas.
Bendera setengah tiang sebagai perlambang duka nasional akibat terbunuhnya tokoh yang dikenal sebagai Pahlawan Revolusi.
Sementara itu, bendera yang dikibarkan secara penuh melambangkan kesaktian ataupun kesakralan Pancasila dalam menangkal ideologi komunis secara terkhusus.
Kesimpulannya, kegagalan usaha PKI untuk mengganti ideologi Pancasila menunjukkan bahwasanya ideologi ini sakti nan sakral. Akibat kesakralan dan kesaktian ini, Pancasila tidak bisa diganggu gugat oleh PKI kala itu.
Sehingga, berdasarkan peristiwa itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila erat kaitannya dengan Gerakan 30 September (G30S/PKI) pada tahun 1965.
Ya, karena sekali lagi bahwa G30S/PKI saat itu bertujuan menggulingkan pemerintahan dan meruntuhkan Pancasila sebagai ideologi negara.
Oleh karenanya, Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya sekadar peringatan atas keberhasilan negara dalam melawan pemberontakan.
Tetapi, juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga persatuan dan keutuhan negara berdasarkan ideologi Pancasila.
Peringatan ini memiliki makna mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Terutama untuk terus mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. (dni)
Editor : Azwar Halim