Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kasus Persetubuhan Anak di Bulungan Meningkat

Radar Tarakan • Selasa, 1 Oktober 2024 | 09:21 WIB

 

 

MENINGKAT: Personel PPA Polresta Bulungan saat melaksanakan operasi pekat.
MENINGKAT: Personel PPA Polresta Bulungan saat melaksanakan operasi pekat.

TANJUNG SELOR - Berdasarkan data Polresta Bulungan, tercatat jumlah kasus persetubuhan anak di tahun 2024 (Januari- mengalami kenaikan, yaitu sebanyak 19 kasus. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 12 kasus.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Bulungan, Ipda Gia Iftita Saviera menyatakan tren peningkatan kasus persetubuhan anak terjadi karena masih banyak orang dewasa yang kurang memahami tentang pelecehan seksual.

"Banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikannya, baik karena faktor ekonomi maupun kurangnya pengawasan dari orang tua mereka," kata Gia.

 Baca Juga: Kasus Dugaan Mafia Tanah, Tersangka SHA Dinyatakan P21

Hal ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat pendidikan adalah hak dasar sekaligus kunci menuju masa depan yang lebih baik.

Karena itu, orang tua harus memastikan bahwa anak mendapatkan pendidikan yang cukup dan layak, baik di sekolah maupun di rumah.

"Kemampuan finansial yang terbatas tidak boleh menjadi alasan untuk menghalangi pendidikan anak-anak. Orang tua juga harus lebih proaktif dalam memantau kegiatan dan prestasi pendidikan anak-anak mereka, sehingga dapat memberikan dukungan dan motivasi yang tepat," ungkapnya.

 Baca Juga: KPK Tetapkan Mantan Gubernur Kaltim Jadi Tersangka, Dua Orang Lainnya Juga Ditetapkan Tersangka                

Banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikannya, mengakibatkan mereka terbatas dalam pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi kehidupan di masyarakat.

Dampak ini tidak hanya terbatas pada prestasi akademik, namun juga pada pengetahuan mereka tentang tindakan kriminal seperti pelecehan seksual, pencurian, dan penganiayaan.

"Anak yang kurang teredukasi tentang masalah sosial seperti kejahatan seksual, tidak akan mampu memahami tanda-tanda dari tindakan tersebut dan tidak akan bisa mengambil tindakan pencegahan yang tepat. Seiring dengan bertambahnya usia, anak yang minim pengetahuan tentang tindakan kejahatan akan menjadi lebih rentan untuk menjadi korban tindakan tersebut," bebernya.

 Baca Juga: KPK Geledah Rumah Mantan Gubernur Kaltim, Hampir Lima Jam Periksa dan Bawa Keluar Tiga Koper                 

Untuk mengatasi masalah putusnya pendidikan, perlu ada kerja sama dari semua pihak, termasuk pemerintah, orang tua dan masyarakat.

Pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di Indonesia.

"Semua pihak harus saling mendukung untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk memastikan bahwa para generasi muda memiliki akses layak pada pendidikan," bebernya.

 Baca Juga: Ditresnarkoba Polda Kaltim Bikin Kapok Pengedar, Dua Kilogram Sabu Dimusnahkan                 

Untuk mencegah tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak, diperlukan upaya preventif yang melibatkan berbagai instansi, termasuk pemerintah Binmas dan Bhabinkamtibmas.

Namun, penting juga untuk memastikan bahwa setiap instansi memiliki peran yang jelas dalam upaya tersebut untuk mendapatkan hasil yang optimal.

"Salah satu upaya preventif yang dapat dilakukan oleh Bhabinkamtibmas adalah dengan membentuk linmas dan kerja sama dengan pemuda setempat untuk mengawasi dan mengontrol kondisi keamanan di lingkungan sekitar, sehingga dapat menghindari terjadinya tindakan kekerasan," pungkasnya. (jai/har) 

Editor : Azwar Halim
#polresta bulungan #PPA #pelecehan seksual #tanjung selor #Kasus Persetubuhan Anak