TANJUNG SELOR - Cuaca panas terus terjadi di wilayah Bulungan dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, fenomena ini bukan karena erupsi Gunung Ruang di Sulawesi Utara (Sulut).
Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, kondisi Indonesia saat ini berada pada musim pancaroba dan beberapa wilayah akan memasuki musim kemarau menyebabkan tutupan awan berkurang.
"Jadi, kondisi ini menyebabkan penyinaran matahari ke permukaan bumi akan terjadi secara maksimal akibat tidak adanya tutupan awan," kata Sulam kepada Radar Kaltara, Jumat (10/4).
Dikatakan, fenomena udara panas yang terjadi saat ini, jika ditinjau secara karakteristik fenomena maupun secara indikator statistik pengamatan suhu tidak termasuk dalam katagori gelombang panas, karena tidak memenuhi kondisi tersebut.
"Secara karakteristik fenomena, suhu panas yang terjadi sekarang ini karena adanya gerak semu matahari yang merupakan suatu sirklus yang biasa terjadi dan terjadi setiap tahun," jelasnya.
Sehingga, potensi suhu udara panas seperti ini dapat berulang pada periode yang sama setia tahunnya. Posisi matahari yang berada tidak jauh dari ekuator yang saat ini berada di belahan bumi utara (BBU), menyebabkan wilayah yang di ekuator mendapatkan penyinaran matahari yant maksimal.
"Kondisi ini menyebabkan suhu udara lebih panas daripada biasanya," ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Bulungan, Syarwani mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi dan mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim panas ini.
"Udara panas ini dapat memicu timbulnya api yang kemudian menyebar ke area hutan dan lahan, menyebabkan karhutla," ungkapnya.
Untuk itu, Ia berharap agar masyarakat dapat bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah karhutla dengan melakukan tindakan preventif. Dengan begitu, masyarakat dapat hidup dengan aman dan nyaman, serta dapat menjaga kelestarian hutan dan lingkungan secara berkelanjutan.
"Beberapa upaya yang bisa dilakukan seperti menjaga lingkungan agar tetap bersih dan tertata dengan rapi, tidak membuang sampah sembarangan, menghindari pembakaran terbuka, menyiapkan cadangan air untuk memadamkan api, dan memberikan edukasi tentang pencegahan karhutla kepada masyarakat," bebernya
Selain itu, pengawasan dan patroli di area rawan karhutla perlu ditingkatkan. Dalam menghadapi karhutla. Untuk itu, koordinasi harus terus ditingkatkan.
"Peran aktif pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah dan meminimalisir risiko terjadinya karhutla yang dapat mengancam ekosistem dan kesehatan masyarakat," pungkasnya. (jai/har)
Editor : Azwar Halim