Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltara, Njau Anau, kuliner lokal merupakan salah satu potensi sektor pariwisata daerah.
Aneka hidangan dan masakan bisa menjadi pemikat dan tujuan wisatawan untuk berkunjung ke Kaltara.
“Iya, kuliner lokal ini visa menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke Kaltara," kata Njau kepada Radar Kaltara belum lama ini.
Kedepan, Dispar Kaltara berharap warung makan di daerah menyediakan makanan khas Kaltara. Sehingga, bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.
"Saya menginginkan banyak warung makan yang memang menyediakan masakan khas Kaltara," harapnya.
Diharapkan, melalu food festival dapat mengenalkan masakan khas Kaltara kepada masyarakat luas. Variasi menu yang tersedia pun dibuat beragam dan menyesuaikan waktu penyajian, yakni di pagi dan malam hari.
“Masyarakat kita yang sudah mencoba, ketika memang cocok di lidahnya, tentu akan kangen rasanya. Bisa jadi dia mencari resepnya atau membeli langsung ke warung makan atau online,” ungkapnya.
Dalam food festival kuliner sangat khas. Karena dimasak oleh tiga suku di Kaltara. Yakni, Bulungan, Dayak dan Tidung. Masyarakat dapat menikmati ragam sajian secara gratis
"Ada 200-300 porsi pada setiap sesi. Apabila diakumulasikan, 3.000-4.000 porsi tersajikan," bebernya.
Namun, makanan yang tersaji tidak berbanding lurus dengan tingginya animo masyarakat yang ingin menikmati makanan khas Kaltara.
"Animo masyarakat cukup tinggi. Semoga ini berdampak positif bagi wisata kuliner di Kaltara," harapnya.
Adapun makanan yang disajikan. Yakni, bubur pedos suwir ayam, tumis tudai kacang panjang, nasi telang, seruyuk krispi, sambal goreng terasi, sayur kare terong udang kering dan kerupuk udang.
Selain itu, ada juga soto bulungan, labu besanton, udang papik panggang, udang besanga dan Kincek Terung. "Semuanya kuliner khas Kaltara," ungkapnya.
Bupati Bulungan, Syarwani menyatakan potensi ikan di Bulungan cukup berlimpah baik di laut maupun di sungai. Namun, saat ini yang lebih banyak dikenal adalah ikan laut. Padahal potensi di ikan sungai di cukup menjanjikan.
"Untuk menjadikan ikan sebagai menu sehari-hari dibutuhkan kreatifitas agar ikan yang dikonsumsi dilihat dari pendekatan gizi dapat memenuhi standar dan norma angka kecukupan gizi serta higienis," ujarnya.
“Dari sudut pandang rasa, kemampuan kita untuk mengolah ikan menjadi menu makanan yang enak juga sangat dibutuhkan,” sambungnya.
Diharapkan, food festival dapa menjadi wadah pembelajaran mengasah kemampuan memasak dan mengolah cita rasa menjadi lebih baik. Sehingga, timbul ide-ide inovatif yang bisa memperkaya kuliner serta membangkitkan selera masyarakat. (jai/har) Editor : Azwar Halim