Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Melihat Lebih Dekat Tradisi Bebantang, Dapat Melestarikan Budaya Pernikahan Suku Tidung

Azwar Halim • Sabtu, 4 November 2023 | 12:17 WIB
ISTIMEWA  WISATA ALAM: Air terjun di Sungai Sebakut, Desa Antutan, Tanjung Palas.
ISTIMEWA WISATA ALAM: Air terjun di Sungai Sebakut, Desa Antutan, Tanjung Palas.
Keberagaman ras dan suku di Kaltara menghadirkan banyak sekali tradisi dan adat pernikahan yang unik dan menarik. Dari sekian banyak tradisi terdapat ritual bebantang atau prosesi rangkaian resepsi pernikahan dalam Bahasa Tidung yang masih dijalankan oleh mayoritas warga suku Tidung.

PIJAI PASARIJA

PROSESI  bebantang diawali dengan menyanyikan lagu bebilin atau bebalon dalam bahasa Tidung yang memiliki makna pesan dari orang tua kepada anaknya untuk selalu berbuat baik kepada sesama. Jangan sombong.

Lagu yang dinyanyikan perempuan suku Tidung dibawah binaan Forum Komunikasi Warga Tidung (FKWT) Bulungan dinyanyikan  secara bersamaan. Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi rangkaian  bebantang.

Pengantin pria diantar oleh keluarga diiringi tabuhan hadrah dan irama musik religi. Tak sampai disitu saja, tradisi bebantang dilanjutkan dengan prosesi tepung tawar.

Tepung tawar memiliki makna ngidaw de batu dalam bahasa Tidung menginjak batu yang bermakna bagaikan kerasanya batu itulah keras hatinya dalam mempertahankan rumah tangganya dan melindungi keluarganya.

Kemudian, nginum timung dalam bahasa Tidung minum air yang bermakna sebagaimana sejuknya air tersebut begitu juga sejuknya dalam menjalin rumah tangga. Tidak ada pertengkaran dan selalu mendapatkan ketenangan.

Sementara, ganggom bagas dalam bahasa Tidung menggenggam beras yang memiliki makna sebagaimana mudahnya menggenggam beras begitulah kemudahan dalam mencari nafkah untuk keluarga.

Untuk bisa bertemu mempelai wanita, pengantin pria harus membuka tabir dalam bahasa Tidung panggaw. Pada zamannya, prosesi membuka tabir ini dilakukan tawar menawar dengan membalas pantun dari pihak laki-laki kepada pihak wanita.

Setiap tabir memiliki makna yang berbeda-beda. Setelah melalui tahapan, mempelai pria diperbolehkan untuk duduk dipelaminan.

Ketua FKWT Bulungan, Asnawi mengatakan, budaya tidung sangat banyak. Sehari semalam diyakini tidak cukup waktu untuk menampilkannya. Sehingga, diputuskan untuk menampilkan bebantang.

"Ini salah satu upaya kita untuk melestarikan budaya tidung," kata Asnawi. Walaupun, dalam proses bebantang ini tidak semua ditampilkan. Mengingat, masih banyak ritual yang harus dilakukan.

"Masih banyak. Kita ambil beberapa saja. Minimal melalui kegiatan ini generasi muda dapat terus melestarikan budaya Tidung," ungkapnya.

Sekprov Kaltara Suriansyah mengapresiasi penampilan etnis Dayak Tenggalan, Orkes Gambus Al Ikhwan Kampung Arab dan Etnis Dayak Punan, Etnis Tidung dan Sumatera Utara.

“Iya, saya mengapresiasi adanya pertunjukan kebudayaan. Supaya mengingatkan kita akan budaya di Kaltara," tutupnya. (har) Editor : Azwar Halim
#kaltara #bulungan #Suku Tidung