Pindapata atau bermakna menerima derma (sedekah) dilaksanakan secara langsung oleh Bhante Adhikusalo Mahathera, Bhante Thithaviriyo Thera, Bhante Nandaviro Thera, Samanera Dhammasiri, Atthasilani Dasanadhirani dan Atthasilani Karunadhiran.
Namun, ada sesuatu yang khas pada Pindapata kali ini. Tampak, di tengah-tengah para umat Buddha yang ingin berdana makan pada para Bhikkhu dan Atthasilani, tampak hadir Wakil Gubernur (Wagub) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. Yansen TP M.Si.
Wagub Kaltara saat itu terlihat antusias dan menunggu bersama umat Buddha lainnya di tepi trotoar untuk menyerahkan dana makanan kepada para Bhikkhu dan Athasilani. Dengan salam Namo Buddhaya kepada para Bhikkhu Sangha, dana makanan diserahkan langsung oleh pria yang pernah menjabat dua periode Bupati Malinau.
Atas partisipasinya dalam rangkaian kegiatan Kathina Puja 2566/2022, umat Buddha secara langsung mengucapkan terima kasih atas kehadiran Wagub Kaltara dalam memberikan dana makanan kepada Bhikkhu Sangha saat Pindapata. Menurut mereka bahwa ini sebuah contoh konkret dari semangat toleransi, saling menghormati serta mempererat tali persaudaraan antar umat beragama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.
Diketahui, selama pelaksanaan Pindapata oleh tiga Bhante, satu Samanera dan dua Atthasilani. Rutenya yaitu dari Vihara belok kiri ke Jalan H. Maskur - Lapakan - Jalan Jendral Sudirman (pinggir sungai) - Pasar Sore dan kembali ke Jalan H. Maskur.
Pindapata ini adalah para Bhikkhu membawa periuk kosong sembari berjalan melalui rute tersebut di atas. Sejumlah umat Buddha di Kabupaten Bulungan sudah menunggu di pinggir jalan. Satu per satu mengisi periuk-periuk itu dengan berbagai barang berupa seperti uang, makanan dan minuman.
Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Kalimantan Utara (Kaltara), Bhante Adhikusalo Mahathera menjelaskan, Pindapata ini memang benar menjadi rangkaian peringatan Hari Kathina. Pindapata ini merupakan ajaran Buddha, yakni berdana/bersila. "Sebelum menjaga ucapan dan perbuatan, kita mempersiapkan diri dengan berbuat baik. Jadi, kita berdana itu sebenarnya supaya tidak miskin,” tuturnya.
Pindapata diikuti pula oleh umat dan biksu dari berbagai daerah dan luar negeri, di antaranya Thailand, Laos, Cina, Vietnam, Singapura hingga Kamboja. Umat yang ikut berderma mengharapkan dengan Pindapata yang memberikan persembahan kepada biksu adalah sebagai wujud hormat dan rasa terima kasih.
Sebelumnya, mengenai perayaan Kathina Puja di Vihara Dharma Cakra Tanjung Selor, merupakan salah satu hari raya dari empat hari raya yang ada dalam agama Buddha (Magha Puja, Waisak, Asalha dan Kathina). Kathina adalah hari bhakti umat Buddha kepada anggota sangha (perkumpulan para bhikkhu dan bhikkhuni) yang dilaksanakan selama sebulan penuh.
Kathina dirayakan oleh umat Buddha dengan cara berdana atau memberikan persembahan empat kebutuhan pokok para bhikkhu dan bhikkhuni. Empat kebutuhan pokok terdiri dari; jubah, makanan, obat-obatan, dan tempat tinggal. Kathina dirayakan sebagai upaya umat untuk mendukung kelestarian ajaran Buddha.
Dengan adanya sangha, maka ajaran Buddha dapat terus dikumandangkan demi kebaikan dan kebahagiaan semua umat manusia dan semua makhluk di alam semesta. Terdapat syarat yang harus dipenuhi dalam perayaan kathina. Yaitu minimal lima bhikkhu yang menjalankan vassa bersama sama di satu Vihara (tempat ibadah umat Buddha).
Karena persyaratan itu di Indonesia, sebagian besar vihara keterbatasan jumlah biksu, maka tidak merayakan "Kathina-dana" tetapi Sangha-dana (berdana kepada komunitas bhikkhu/bhikkhuni) di bulan Kathina. Dengan demikian Vihara dapat merayakan kathina puja. Sebelumnya, mengenai prayaan Kathina Puja di Vihara Dharma Cakra Tanjung Selor tahun ini di hadiri oleh 3 orang Bhikkhu Sangha, 1 orang Samanera (calon Bhikkhu) serta 2 orang Athasilani. (dni/eza) Editor : Azwar Halim