Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Terima Teknologi, Tetap Lestarikan Budaya Nenek Moyang 

Azwar Halim • Senin, 3 Oktober 2022 | 15:06 WIB
(IST) RAIH PENGHARGAAN: Rohil Fidiawan dan Anggrino Gilang menunjukkan hasil EADC 2022 yang menyatakan mereka berada di peringkat 3 nasional. 
(IST) RAIH PENGHARGAAN: Rohil Fidiawan dan Anggrino Gilang menunjukkan hasil EADC 2022 yang menyatakan mereka berada di peringkat 3 nasional. 
Gelaran Eagle Award Documentary Competition (EADC) 2022 yang diikuti ratusan peserta akhirnya mengerucut jadi lima besar. Dari lima besar itu, ada satu proposal yang digagas warga Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara). Seperti apa ceritanya, berikut ulasannya.

IWAN KURNIAWAN

BENAR kata pepatah yang menyebutkan bahwa 'perjuangan tak mengkhianati hasil'. Hal itu telah dirasakan oleh banyak orang, termasuk yang baru-baru ini dialami dua pemuda asal Bulungan, yakni Rohil Fidiawan dan Anggrino Gilang.

Hasil karya keduanya dalam bentuk proposal ide cerita yang berjudul 'The Flintstones Digital dari Belantara Rimba Bulungan' terpilih dan masuk finalis 5 besar EADC 2022 tepatnya menduduki urutan ketiga yang diumumkan pada, Jumat (30/9) lalu.

Rohil mengatakan, hasil ini dicapai setelah bertarung dan melalui proses panjang dari seleksi proposal yang menyisihkan 132 ide cerita original dengan data riset kuat dari seluruh Tanah Air. Terlebih peserta yang mengikuti EADC 2022 ini berasal dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.

"Awal proses seleksi proposal yang dibuka sejak 6 Juli-18 September 2022 ini, panitia mempersempit menjadi 50 besar, 20 besar, hingga ke 5 besar. Alhamdulillah, kami masuk di 5 besar mewakili ide cerita terbaik dari seluruh Indonesia," ujar Rohil kepada Radar Kaltara saat dikonfirmasi, Minggu (2/10).

Proses menuju 5 besar ini, EADC 2022 melibatkan 5 juri ternama dalam mewawancara 20 ide cerita terpilih sebelum menetapkan 5 finalis terbaik yang filmnya akan di produksi dan ditayangkan di malam penganugerahan di Metro TV pada 30 November 2022 mendatang.

Adapun 5 juri tersebut meliputi Andi F Noya selaku presenter pada program Kick Andy dan jurnalis, Tonny Trimarsanto sebagai Maestro Sutradara Film Dokumenter Indonesia, Sofia Setyorini sebagai Impact Produser, Muthia Gani seorang Sosiolog, dan Yoshi salah satu personel Project Pop sekaligus perwakilan dari Siberkreasi Kominfo.

Pada rangkaiannya, 5 finalis terpilih mengikuti beberapa proses, mulai dari workshop pendalaman ide cerita dari 1-8 Oktober secara daring, kemudian mentor meeting pada 10 Oktober, pre produksi recce peserta 9-16 Oktober, produksi 17-30 Oktober. "Kemudian ke Jakarta pada 31 Oktober, editing offline 1-15 November, editing online 16-29 November dan terakhir Awarding pada 30 November 2022," sebutnya.

Dikatakannya, mentor ternama film Indonesia yang akan mengawal 5 film terpilih di workshop tersebut, yakni BW Purbanegara, Dony Kusen, Tonny Trimarsanto, Benny Kadarharyanto, Gelly Kusuma, Eko Rejoso, Agustya Herdwiyanto, hingga Cesa David Lukmansyah. "Jadi Eagle Awards ini merupakan ajang kompetisi bagi insan perfilman Indonesia, terutama generasi muda yang mengkhususkan pada film dokumenter," katanya.

Dibeberkannya, dalam proposal ide cerita ini, ia bersama rekannya menceritakan terkait komunikasi masyarakat Punan Batu di Hutan Benau bersama dengan masyarakat di luar. Dalam hal ini, Ketua RT 11 Punan Batu mengkoordinir seluruh warganya sampai ke dalam liang (goa). Uniknya, dengan keterbatasan jaringan telekomunikasi, yang notabene mereka lahir dan hidup di hutan, tapi mereka tidak menolak teknologi yang masuk sebagai bentuk bagian dari perkembangan zaman.

"Namun, di sisi lain mereka tetap menjaga hutan sebagai bentuk pelestarian budaya nenek moyang mereka. Kalau kata Ketua RT 11 itu, anaknya tetap dikenalkan dengan kecakapan digital, sembari tetap diajari cara hidup nenek moyang, karena hutan adalah bagian utama dari kehidupan," ungkapnya.

Untuk diketahui, tahun ini, EADC 2022 mengangkat tema 'Indonesia Bersinar Makin Cakap Digital' dengan mengusung empat pilar digitalisasi sebagai dasar refrensi penulisan ide cerita oleh peserta. (***/eza) Editor : Azwar Halim
#kaltara #teknologi #bulungan