Kepada Radar Tarakan, Kepala Bidang Haji dan Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Wilayah Kemenag Kaltara, H. Muhammad Saleh menjelaskan, pemantauan hilal di Kaltara dipusatkan di Taman Berlabuh Kota Tarakan.
“Tapi Kemenag kabupaten/kota bersama tokoh agama Islam, ormas Islam dan BMKG juga melakukan pemantauan, seperti Kemenag Bulungan yang biasanya mantau di Gunung KNPI Tanjung Selor, tapi biasanya jarang terlihat,” ungkap Saleh melalui sambungan teleponnya, Jumat pagi (01/04/2022).
Untuk di Tarakan pemantauan hilal akan dilakukan mulai pukul 16.30 WITA. Jika kondisi cuaca bagus, kata Saleh, pukul 06.00 WITA lebih sedikit hilal bisa terlihat.
“Hanya saja di Kaltara jarang terlihat, karena itu kami masih mencari titik-titik agar hilal jelas terlihat. Nah, sampai sekarang belum ketemu,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan, setelah pemantauan hilal hasilnya akan dilaporkan langsung ke Kemenag RI via WhatsAPP untuk selanjutnya dibawa ke sidang isbat penentuan 1 Ramadan 1443 H.
“Sidang isbat akan digelar malam ini, setelah semua daerah melaporkan hasil pemantauannya. Karena hari ini Kemenag seluruh Indonesia serentak melakukan pemantauan hilal,” bebernya.
Proses pemantauan hilal di Tarakan, jelas Saleh, Kemenag Kaltara bersama Kemenag Tarakan mengundang tokoh agama Islam, organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan BMKG Tarakan.
“Alat yang digunakan untuk memantau hilal sudah ada theodolit dan teropong, semuanya sudah siap,” ujarnya.
Adapun isu yang berkembang di masyarakat soal adanya perbedaan 1 Ramadan Muhammadiyah dan pemerintah, pria yang pernah menjabat Kepala Kemenag Nunukan ini mengimbau masyarakat tidak perlu risau.
“Pahami lah, dimengerti lah, perbedaan ini sudah sering terjadi. Jangan sampai silaturahmi rusak gara-gara adanya perbedaan ini,” harapnya.
Namun, Saleh tetap menekankan kepada masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi dari pemerintah.
“Kan adanya perbedaan ini masih isu, belum ada keputusan resmi, kita tunggu saja pengumuman resmi kapan 1 Ramadan 1443 H ,” tutupnya.
Sekedar diketahui, perbedaan bisa terjadi karena masing-masing punya dasar, pemerintah menggunakan perhitungan rukyatul hilal, Muhammadiyah hisab.(ana)
Editor : Sopian Hadi