Berdasarkan hasil hisab tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1443 H jatuh pada Sabtu (2/4), dan 1 Syahwal 1443 H pada Senin (2/5)
Adapun penjelasannya, berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammdiyah, pada hari Jumat Pahing, 29 Syakban 1443 H bertepatan dengan 1 April 2022, Ijtimak jelang Ramadan 1443 H terjadi pada pukul 13:27:13 WIB.
Tinggi bulan pada saat matahari terbenang di Yogyakarta ( f = -07° 48¢ LS dan l = 110° 21¢ BT ) = +02° 18¢ 12² (hilal sudah wujud), dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam itu bulan berada di atas ufuk. 1 Ramadan 1443 H jatuh pada hari Sabtu Pon, 2 April 2022 M.
Kedua, Syawal 1443 H. Pada hari Sabtu Legi, 29 Ramadan 1443 H bertepatan dengan 30 April 2022 M, ijtimak jelang Syawal 1443 H belum terjadi. Ijtimak terjadi esok harinya, Ahad Pahing, 30 Ramadan 1443 H bertepatan dengan 1 Mei 2022 M pukul 03:31:02 WIB. Tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam di Yogyakarta ( f = -07° 48¢ LS dan l = 110° 21¢ BT ) = +04° 50¢ 25² (hilal sudah wujud), dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam itu bulan berada di atas ufuk. Umur bulan Ramadan 1443 H 30 hari dan tanggal 1 Syawal 1443 H jatuh pada hari Senin Pon, 2 Mei 2022 M.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bulungan H. Mardiman mengatakan pihaknya telah menerima Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/MLM/1.0/E/2022 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syahwal dan Zulhijah 1443 Hijriah.
“Menurut perkiraan saya, karena di maklumat ini kan ada 2 derajat 18 menit ketinggian hilal pada hari Jumat, malam Sabtu itu, kemungkinan belum kelihatan kalau pakai rukyatul hilal,” kata Mardiman kepada Radar Kaltara, Jumat pagi (18/3).
Artinya, kata dia, potensi perbedaan 1 Ramadan 1443 H Muhammadiyah dengan pemerintah besar. “Kemungkinan (kelihatan) kalau 2 derajat 18 menit berapa detik lagi,” jelasnya.
Karena itu, ia mengimbau kepada warga Muhammadiyah khususnya yang ada di Bulungan untuk menghargai kemungkinan adanya perbedaan 1 Ramadan dengan pemerintah.
“Kita saling toleransi, begitu juga dengan warga di luar Muhammadiyah saling menghargai orang puasa yang lebih duluan 1 hari, karena masing-masing punya dasar, satu rukyatul hilal dan satu lagi hisab,” pungkasnya.(ana)
Editor : Sopian Hadi