Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Melihat Kisah Abdul Ghafur Seorang Pengrajin Monumen

Azwar Halim • Senin, 8 Juli 2019 | 09:35 WIB
melihat-kisah-abdul-ghafur-seorang-pengrajin-monumen
melihat-kisah-abdul-ghafur-seorang-pengrajin-monumen

Mungkin belum banyak yang tahu jika beberapa monumen yang berjajar indah di sisi pintu masuk Bandar Udara Juwata Tarakan adalah buah tangan dari seorang pria asal Lumajang yang kini berdomisili di Tarakan.


DEDI SUHENDRA


ABDUL Ghafur pria kelahiran Lumajang Jawa Timur 27 Februari 1940 yang kini dipercaya mengembangkan Dekranasda Kabupaten Bulungan adalah sosok yang telah menghasilkan banyak karya monumen di berbagai wilayah di Indonesia termasuk di Kota Tarakan.


Mengawali kisah hidupnya, Abdul Ghafur yang terlahir dari keluarga kurang mampu setelah tamat sekolah dasar (SD) selanjutnya ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi harus pupus karena harus membantu pendidikan adik-adiknya.


“Waktu itu setelah tamat SD saya sempat melanjutkan di PGA (Pendidikan Guru Agama) di Malang. Tapi karena kondisi ekonomi orang tua saya meminta saya berhenti dan membantu membiayai kuliah adik-adik saya,” ungkapnya.


Setelah tidak melanjutkan pendidikan dirinya lebih memilih bekerja di salah satu pengrajin marmer untuk membantu biaya pendidikan adik-adiknya. Pada saat itu dalam hati kecilnya bercita-cita jika kelak memiliki anak harus menjadi seorang sarjana semuanya.


“Waktu itu cita-cita saya, kelak jika punya anak harus sarjana semua meskipun saya tidak bisa melanjutkan pendidikan. Dan alhamdulilah ketiga anak saya sekarang sudah sarjana,” kenangnya.


Sebelum melanglang buana dipercaya membuat monumen Adipura di beberapa wilayah di Indonesia. Berawal pada tahun 1991 saat itu dirinya beserta rekan-rekanya dipercaya membuat tugu adipura di Kabupaten Lumajang. Karena dinilai hasilnya sangat baik sehingga banyak wilayah yang mendapatkan penghargaan di bidang kebersihan tersebut memintanya membangunkan tugu yang sama.


“Tahun 1991 membuat tugu adipura di Lumajang dan hasilnya terbaik. Pada akhirnya saya diminta oleh pusat untuk menangani tugu adipura di berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk di Bali, Aceh, Bengkulu, Padang hingga Sulawesi,” ujarnya.


Untuk membangun monumen adipura, Ghafur dibantu empat rekannya dapat menyelesaikan dalam waktu 1 bulan untuk pembangunan fisik. Sedangkan untuk membuat logo yang terbuat dari logam kuningan berketebalan 0,6 sentimeter membutuhkan waktu 1 minggu.


Awalnya untuk proses pembuatan logo yang terbuat dari kuningan ia kerjakan sendiri. Namun karena banyaknya permintaan, sehingga dirinya dibantu beberapa rekannya. “Karena banyak pesanan jadi saya dibantu beberapa rekan, meski demikian finishing-nya tetap saya yang buat,” katanya.


Kemudian saat dirinya hijrah ke Tarakan untuk mengembangkan usahanya, Wali Kota Tarakan pada saat itu Jusuf SK berencana membangun menomen adipura setelah Tarakan berhasil meraih penghargaan tersebut pada 2007.


“Pada waktu itu Wali Kota Tarakan bapak Jusuf SK ingin membangun tugu penghargaan. Kebetulan saya banyak pengalaman berdasarkan surat rekomendasi dari berbagai kepala daerah di Indonesia. Saya diminta mengerjakan monumen tersebut,” katanya.


Menurutnya, jajaran monumen yang berada di samping pintu masuk Bandar Udara Juwata Tarakan adalah hasil karyanya. “Empat monumen yang saya kerjakan, termasuk tugu 99 saya ikut kerjakan berkolaborasi dengan teman saya,” ucapnya.


Namun dengan usia yang tak lagi muda usaha yang digelutinya di Tarakan pasca meninggalnya sang istri kini diteruskan anak-anaknya. Dan Abdul Ghafur lebih memilih mengembangkan keahlianya untuk berkarya di Dekranasda Kabupaten Bulungan yang berada di kompleks Pasar Induk Tanjung Selor.


Di Dekranasda yang ia kelola, Abdul Ghafur melayani pembuatan plakat, piagam penghargaan hingga miniatur monumen yang ada di Kaltara. Termasuk miniatur Tugu Cinta Damai yang selama ini banyak peminatnya.


“Kalau membuat miniatur monumen yang paling berkesan adalah membuat Tugu Cinta Damai. Karena desainnya saya suka, selain itu memang banyak yang pesan dari kalangan pemerintahan untuk cendera mata,” terangnya.


Untuk membuat miniatur dari awal hingga selesai, ia membutuhkan waktu antara 15 hingga 20 hari. Harga berbagai bentuk miniatur monumen hingga plakat yang ia buat dijual dari harga Rp 300 ribu hingga Rp 3 juta.


“Paling murah plakat 300 ribu paling mahal tergantung kebutuhan model bentuk dan pengerjaannya. Ada yang sampai harga Rp 3 juta rupiah,” bebernya.(dsh/eza)

Editor : Azwar Halim