Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang kaya warisan seni dan budaya luhur baik dalam bentuk gerak tari, alat musik, hingga seni ukir kayu. Selama ini belum mendapat ruang khusus untuk lebih diperkenalkan ke masyarakat, namun dengan terbentuknya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya, nantinya secara rutin digelar pentas seni untuk lebih memasyarakatkan kesenian Kaltara.
DEDI SUHENDRA
PENTAS seni tari serta musik etnik untuk pertama kalinya ditampilkan ratusan peserta dalam gelaran pertunjukan seni bertempat di Taman Kaltara Abadi Tanjung Selor. Kegiatan yang digagas UPT Taman Budaya Kaltara ini mendapat respons cukup baik dari kalangan masyarakat, pelajar hingga para seniman Kaltara.
Kepala UPT Taman Budaya, Eunike Suppa, ST mengatakan, pertunjukan seni tari yang digelar pada Sabtu (16/3) malam bertemakan Benuanta Menari. Menurutnya kegiatan tersebut merupakan awal dari kegiatan yang nantinya digelar secara rutin.
“Kita dari UPT Taman Budaya memiliki program setiap bulanya melakukan kegiatan seni baik itu seni tari, seni musik, teater serta seni lukis. Sedangkan di bulan Maret ini diprogramkan untuk seni tari,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut selain menampilkan tarian etnik Kaltara juga dilakukan sesi bincang tari dengan penggiat tari serta budayawan Kaltara Datu Norbeck. “Jumlah penari dan pemain musik yang tampil sekitar 106 orang. Terdiri dari siswa SMK 2 Tanjung Selor, SMK 1 Tanjung Palas, SMA Agape Tanjung Selor, sanggar tari tidung taka, sanggar tari setara serta komunitas etnik Kaltara,” rincinya.
Eunike mengatakan, dengan antusias para siswa serta penggiat seni di Kaltara kegiatan serupa akan kami lakukan secara berkesinambungan dengan tema yang berbeda-beda setiap bulanya. Jadi tiap bulan nantinya diadakan 2 kali pertunjukan dengan tempat yang berbeda.
“Untuk pertama kali kita gelar di Taman Kaltara abadi, ke depan tempat pertunjukannya kita sesuaikan dengan tema yang kita usung,” ulasnya.
Dalam pertujukan kali ini, menampilkan perpaduan jenis tari baik tradisional hingga kreasi dari berbagai suku di Kaltara. “Ada tari pesisir, tari pedalaman juga tarian etnik Bulungan,” singkatnya.
Tujuan utama kegiatan tersebut, kata Eunike selain sebagai ajang mengumpulkan para pelaku kreativitas seni. Juga sebagai sarana melestarikan kebudayaan luhur bangsa Indonesia terutama di Kaltara. “Kegiatan ini juga sebagai edukasi, serta memberikan hiburan pada masyarakat. Bulan depan kami akan menampilkan pertunjukan seni lukis dengan tema serta tujuan berbeda,” katanya.
Terkait sumber dana untuk pertunjukan, dirinya mengatakan jika para penari yang tampil tidak ada yang dibayar. “Mereka sukarela ingin tampil, sebenarnya banyak sanggar tari yang ingin tampil karena keterbatasan waktu sehingga tidak terakomodir semua. Karena kita batasi pertunjukan tidak boleh lebih dari pukul 10 malam harus selesai,” terangnya.
Eunike menambahkan, pihaknya tidak mengadakan kompetisi dan lebih condong memfasilitasi pentas seni pertunjukan. “September ada temu karya se-Indonesia, di Jakarta tahun lalu di Palangkaraya. Kami berharap dengan potensi yang ada, Kaltara bisa menjadi tuan rumah temu karya taman budaya se-Indonesia,” harapnya.
Ketika pondasi budaya kita kuat tentu saja menarik para wisatawan yang datang ke Kaltara. Karena keunikan kultur seni di Kaltara dan itu menjadi asset kita untuk membantu mendorong pengembangan sektor pariwisata. “Dengan kegiatan seperti ini harapanya masyarakat melek kebudayaan, karena budaya bisa menyatukan perbedaan dari berbagai suku serta keyakinan,” ujarnya.
Meski saat ini UPT Taman Budaya Kaltara belum memiliki gedung pertunjukkan sendiri dirinya tetap optimistis pertunjukan seni di Kaltara dapat berkembang. “Karena tahun ini UPT taman budaya baru terbentuk, mudah-mudahan kedepan, ketika didukung anggaran sehingga taman budaya memiliki gedung sendiri. Sehingga tiap pertujukan seni, lukisan ada wadahnya, kita tidak harus mencari-cari tempat,” pungkasnya. (***/eza)
Editor : Azwar Halim