Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Siapkan Altar Sesajen untuk Para Arwah

Sopian Hadi • Sabtu, 25 Agustus 2018 | 21:20 WIB
siapkan-altar-sesajen-untuk-para-arwah
siapkan-altar-sesajen-untuk-para-arwah

Dalam menjaga tradisi, etnis Tionghoa di Tanjung Selor kerap menggelar kegiatan yang bersifat rutin.Salah satunya dengan sembahyang leluhur, atau disebut pai hau xiongti. Berikut liputannya.


RACHMAD RHOMADHANI


JUMLAH masyarakat warga Tionghoa di Tanjung Selor saat ini terbilang masih minim. Ini jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya, misalnya di Kota Tarakan.


Akan tetapi, meski minim, upaya dalam menjaga tradisi para leluhur agar tak punah, warga Tionghoa sejauh ini tetap melakukan berbagai kegiatan rutin. Salah satunya tradisi sembahyang leluhur yang dilaksanakan di rumah singgah Makam Tionghoa, Tanjung Selor, Sabtu (25/8).


Berdasarkan pantauan pewarta harian ini, dalam pelaksanaan sembahyang leluhur. Sejak pukul 08.00 Wita satu per satu warga Tionghoa, baik yang menggunakan mobil maupun sepeda motor tampak mulai memadati makam Tionghoa di Jalan Meranti Tanjung Selor.


Mereka saat itu tak hanya sekadar datang tangan kosong. Melainkan, mereka membawa keranjang dan kardus yang berisikan berbagai macam produk minuman dan makanan yang nantinya akan diletakkan di rumah singgah yang berada di kompleks makam Tionghoa yang hanya berjarak sekira 20 meter dari makam.


Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun. Makanan dan minuman itu juga ternyata digunakan sebagai sesajen yang dipersembahkan kepada para leluhur yang telah meninggal. Mulai dari kue bakpao, pisang, semangka, daging ayam, daging babi dan lainnya tampak berjajar rapi di atas altar atau meja.


Diketahui, sedikitnya ada delapan altar yang disiapkan dalam acara tradisi ritual yang digelar hanya setahun sekali. Tepatnya digelar pada awal bulan 7 hingga akhir bulan 7 penanggalan Imlek. Jika, di Tanjung Selor dilaksanakan pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek.


Altar itu pun dalam proses sembahyang akan terbagi menjadi dua. Altar yang khusus untuk mendoakan arwah para leluhur pada masing-masing keluarga. Dan ada juga altar untuk umum. Artinya, untuk arwah leluhur yang tidak memiliki keluarga yang mendoakan.


Sementara, dalam prosesi sembahyang, terlebih dulu masing-masing sesajen ditancapkan dupa yang sudah dibakar. Karena altar terbagi menjadi dua, warga Tionghoa pun melaksanakan sembahyang mengirim doa kepada para leluhur di dua altar yang berbeda. Satu di altar keluarga dan satu lagi di altar umum.


Dan sembahyang leluhur ini berkaitan dengan guijie (festival hantu) atau sembahyang rebutan yang merupakan tradisi ‘kelenteng’ dengan sembahyang Ulambana versi Buddha.


Sedangkan, menurut kepercayaan warga Tionghoa sembahyang pada bulan tujuh ini untuk memberi kesempatan bagi para arwah dan roh-roh di neraka dilepaskan ke dunia dan bebas dari alam sengsara atau kembali ke tempat yang layak.


Oleh karenanya, pada momen itu, warga Tionghoa mengadakan upacara untuk memberi makan mereka dan upacara ritual penyeberangan arwah.  Hal ini bertujuan untuk mengembangkan welas asih tidak hanya kepada sesama manusia atau binatang tetapi juga kepada mahluk-makhluk yang tak terlihat.


“Tradisi ini sebetulnya sudah dikenal semenjak zaman sejarah purba Tiongkok, tapi waktu perayaan tidak selalu sama, tergantung keinginan penguasa atau orang yang ingin mengadakan upacara itu,” ungkap Satya Bahari selaku Ketua Pelestarian Tradisi Warga Tionghoa Tanjung Selor.


Ditanya apakah sembahyang ini satu simbol dengan ziarah kubur atau Cheng Beng. Pria yang akrab disapa Abay ini menerangkan bahwa hal itu beda. Jika Cheng Beng, sembahyangnya di makam dan hanya mendoakan keluarga. Sedangkan, sembahyang leluhur yang didoakan tidak hanya keluarga, tapi juga arwah yang tidak punya keluarga. Dan menurutnya banyak arwah leluhur yang sudah tidak memiliki keluarga di Bulungan.


“Itulah mengapa kami siapkan satu altar untuk sesajen umum, siapa saja boleh sembahyang di altar itu,” ujarnya di sela mempersiapkan acara ritual sembahyang leluhur.


Dikatakannya juga, tua ataupun muda bisa mengikuti kegiatan sembahyang leluhur. Karena tujuannya agar tradisi ini tetap bisa dilestarikan. Apalagi tradisi ini juga mendidik generasi muda agar berbakti kepada orang tua yang telah meninggal dunia dengan mengirimkan doa. “Ritual ini biasa kami tutup sampai jam 12, dan dilanjutkan dengan makan bersama warga Tionghoa yang hadir,” katanya.


“Tapi, di sisi lain sebenarnya acara ini sekaligus momen silaturahmi dan menjaga kekompakan warga Tionghoa Bulungan,” ujarnya.


Usai ritual sembahyang ditutup, warga Tionghoa membakar simbol uang, perak, dan emas yang terbuat dari kertas dibakar. Menurut kepercayaan, simbol-simbol itu akan tersampaikan kepada para arwah leluhur. (***/eza)

Editor : Sopian Hadi