Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Satu-satunya Pengrajin dan Dibuat dari Daun Pandan Berduri

Azwar Halim • Senin, 30 Juli 2018 | 09:07 WIB
satu-satunya-pengrajin-dan-dibuat-dari-daun-pandan-berduri
satu-satunya-pengrajin-dan-dibuat-dari-daun-pandan-berduri

Saat ini mungkin sudah cukup jarang ditemui seseorang yang masih ingin membuat tikar secara manual dengan berbahan dasar pandan berduri. Namun, di Buluh Perindu ada salah seorang wanita setengah baya yang masih gemar membuat tikar itu. Berikut liputannya.


RACHMAD RHOMADHANI


“LAGI buat apa nek?," itulah ucapan yang terlontar awak Radar Kaltara saat kali pertama melihat seorang nenek bersama cucunya yang tengah meraut daun-daun pandan di halaman rumahnya yang berada di Buluh Perindu, Tanjung Selor.


Dan saat perkataan sang nenek akan terucap. Cucunya yang begitu lucu dan menggemaskan justru meminta awak media memfotonya. Entah, apa yang dipikirkan cucunya saat itu yang spontan meminta foto. Alhasil, dua tiga kali jepretan pun terjadi melalui kamera DSLR ini.


Lanjut, sang nenek yang diketahui bernama Halimah dan telah berusia 62 tahun, ternyata membuat barang atau produk yang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Melalui jemari tangan-tangannya yang mengeriput karena termakan usia.


Dalam membuat tikar, diakui nenek Halimah bukan sembarang tikar. “Ini daun pandan untuk buat tikar. Tapi bukan sembarang tikar. Ini tikar dibuat untuk orang yang meninggal dunia biasanya. Maka, wajib di adat kami saat mengafaninya di atas tikar daun pandan ini," ungkapnya sembari melanjutkan rautan daun pandan berduri itu.


Mendengar penjelasan singkat padat dan jelas dari sang nenek itu sempat membuat bulu merinding. Bagaimana tidak, dari daun pandan berduri dan jelas tajam itu ternyata akan dibuat tikar untuk acara adat kematian.


Awak media ini sempat terpaku. Hanya, melihat sang nenek meraut dan membersihkan duri-duri yang ada di sisi kiri, kanan dan tengah belakang daun pandan. Sang nenek yang sempat menatap awak media mungkin merasa ada yang heran juga. “Ini untuk suku apa nek?," pertanyaan kembali muncul di benak awak media.


Sang nenek tanpa terganggu konsentrasinya saat meraut pun dengan senang hati dan antusias menjawab beberapa pertanyaan yang ditujukan padanya. “Ini suku Bulungan. Dan ini sejak zaman dulu memang di sini budayanya seperti itu," ungkapnya sembari mengingat tentang beberapa tradisi lain di adatnya.


Memang bicara mengenai era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini. Tentu sangat jarang melihat seseorang yang mau membuat suatu produk secara manual. Melainkan ingin instan dan bergeser ke arah digital.


Nenek Halimah sendiri mengakui, anak zaman now memang sudah banyak meninggalkan tradisi pembuatan tikar kematian ini. Bahkan, di Buluh Perindu tempat nenek ini tinggal. Diakuinya juga bahwa hanya ia sendiri yang sampai saat ini masih menekuni pembuatan tikar tersebut. “Anak-anak sekarang tak pandai membuat begini. Kalau sepanjang daerah ini, hanya saya saja. Karena cara kerjanya juga rumit," katanya seraya berkata bahwa ia bersyukur mengetahui cara membuatnya  dari orang tuanya dahulu.


Lanjutnya, untuk estimasi waktu dalam membuat tikar ini. Dikatakannya, paling tidak dua pekan. Maka, wajar jika bicara harga setiap tikar cukup mahal saat dikomersilkan. Setiap jengkal tangan dengan panjang sekira 2 meter seharga Rp 100 ribu. “Mahal ini. Saya membuat juga kalau misal ada yang pesan. Tapi, ada juga yang memang saya persiapkan dahulu satu atau dua buah tikar, ucap nenek yang memiliki 6 orang anak ini.


Mengenai jenis daun pandan yang digunakan. Nenek ini menceritakan bahwa tidak sembarang daun pandan juga. Daun pandan yang digunakan khusus yang ditanam di daerah itu sendiri, Buluh Perindu. Dan untuk membuatnya, selain duri-duri dibersihkan dahulu. Kemudian, daun pandan dibakar dan direndam menggunakan air sungai.


“Ini semalam harus direndam baru dijemur di terik matahari. Langkah terakhir dibelah menggunakan alat ukur dan dianyam," jelasnya.


Pasca memberikan penjelasan sang nenek seolah paham akan rasa penasaran yang begitu tinggi dari awak media. Alhasil, ia bergegas masuk ke rumahnya dan mengambil sebuah tikar yang telah dibuatnya.


Aroma harum pandan saat tikar akan diletakkan di hadapan awak media begitu terasa aromanya. Jika dirupiahkan dari tikar yang dibuatnya itu senilai Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. “Harum pandannya kalaupun kering seperti ini tetap tercium," ucap nenek.


Nenek Halimah berharap tradisi wajib dijaga. Oleh karenanya, ia terkadang mengajak anak dan cucunya untuk bersama membuat tikar-tikar itu. Meskipun, terkadang hanya mereka yang bertugas menganyam. Karena untuk proses awalnya jelas butuh kesabaran ekstra. “Awal saya menggeluti ini juga dulu dan dijual sejak 2013 lalu," terangnya.


“Banyaklah sudah yang terjual untuk membantu perekonomian di rumah," sambungnya seraya menunjukkan wajah sedih karena usaha itu ia geluti lantaran sang suami tercinta telah meninggal dunia. (***/eza)


Satu-satunya Pengrajin dan Dibuat dari Daun Pandan Berduri

Editor : Azwar Halim