TANJUNG SELOR - Keberadaan taman di tepian Sungai Kayan atau Taman Sungai Kayan (TSK) dan Taman Kaltara Abadi (TKA) Sabanar Lama diwacanakan akan dipadukan dengan fungsi kapal pariwisata.
Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Irianto Lambrie berkeinginan setelah nanti pembuatan kapal wisata oleh Dinas Pariwisata (Dispar) terealisasi, nilai jual taman yang dibangun dengan bermacam inovasi dapat mendukung tujuan utama pengadaan kapal pariwisata tersebut.
“Pak Gubernur ingin bagaimana dermaga atau tempat sandar kapal wisata dibuat di sana (taman, Red.),” ungkap Suheriyatna, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPR-Perkim) Kaltara melalui H. Sunardi Kabid Cipta Karya kepada Radar Kaltara.
Melihat taman yang telah selesai dibangun mulai dari Jalan Sudirman, Kampung Arab hingga sepanjang Jalan Katamso sampai Tugu Cinta Damai (TCD) Persimpangan Jalan Sengkawi-Katamso dan Taman Kaltara Abadi Sabanar Lama samping Pelabuhan Kayan II, wacana itu sangat memungkinkan jika benar-benar ingin diwujudkan.
Saat ini taman-taman tersebut selain dijadikan sebagai ruang terbuka hijau oleh Pemkab Bulungan juga cukup eksotik dari sisi pemandangan di sore dan malam hari. Dengan begitu taman yang dibangun menggunakan APBD Bulungan sebesar Rp 28 miliar dan APBN 2017 sebesar Rp 16 miliar ini memiliki nilai jual yang bisa saja mendukung upaya Pemprov Kaltara mempromosikan potensi wisata di Bumi Benuanta.
Untuk itu kata Sunardi, taman ini akan dituntaskan pembangunan fisiknya. Pemerintah berkomitmen melanjutkan Taman Kaltara Abadi Sabanar Lama yang telah selesai dibangun tahun 2017 lalu sekira 850 meter ke arah pusat Kuliner Tepian Kayan (Kulteka). Saat ini masih dalam tahap penimbunan bantaran sheetpile. “Desainnya nanti PU provinsi dan itu jadi dasar APBN melanjutkannya. Pembangunan taman ini tidak bisa monoton, jadi harus ada inovasi yang akan dilanjutkan bisa lain desainnya dengan yang sudah ada,” papar Sunardi.
Akan tetapi untuk menjadikan taman atau ruang terbuka hijau sebagai lokasi dermaga kapal perlu kajian yang matang dan mempertimbangkan segala aspek, utamanya estetika dan faktor keamanan taman itu sendiri. “Baru kajian apakah menyalahi aturan atau tidak jika di sana dibangun itu termasuk gazebo-gazebo. Tapi belajar dari daerah lain misalnya Pantai Losari Makassar. Bisa, atau itu jadi dasar kebijakan APBN,” tutupnya.
Sementara itu mengenai progres pengadaan kapal wisata tersebut, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Proyek Pembuatan Kapal Pariwisata Pemprov Kaltara, David mengatakan desainnya telah rampung disusun dengan menggandeng Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Tahun ini Dinas Pariwisata Kaltara setidaknya mengalokasikan anggaran sekira Rp 8,8 miliar untuk memulai pembuatan fisik badan kapal yang terbuat dari kayu. Namun untuk menyelesaikannya perlu waktu sekira 16 bulan. Sedangkan pembiayaannya direncanakan melalui proyek tahun jamak atau multiyears. “Tapi perlu diusulkan dulu ke DPRD,” ungkap dia.
Jika nantinya proyek itu disetujui maka penyelesaian pembuatan kapal dengan panjang 35 meter itu akan memakan waktu dua atau tiga tahun antara 2019 dan 2020. “Cuma anggarannya masih akan dibahas lagi, karena di provinsi ada rasionalisasi,” pungkasnya. (isl/eza)
Editor : Sopian Hadi