Penamaan suatu daerah terkadang bisa muncul dari hal-hal unik. Bahkan, berawal dari sebutan seseorang nama daerah bisa dipatenkan hingga kini. Seperti sebutan Ancam yang terletak di Desa Ardi Mulyo.
RACHMAD RHOMADHANI
TERLETAK cukup jauh dari wilayah perkotaan. Nama Ancam begitu familiar di telinga masyarakat Kabupaten Bulungan. Padahal, daerah itu terbilang sepi dengan kepadatan penduduk kurang dari 50 kepala keluarga (KK).
Ketika ditelusuri lebih jauh oleh penulis. Daerah yang masuk bagian dari Desa Ardi Mulyo, Kecamatan Tanjung Palas Utara awal mulanya memiliki penamaan dengan dasar yang cukup unik. Dinamakan Ancam dikarenakan banyaknya pohon buah perangat yang tumbuh di sekitar Sungai Ancam.
Diketahui, buah perangat memiliki rasa yang sangat asam. Penduduk setempat biasa menggunakan buah yang berbentuk pipih itu untuk bahan tambahan memasak dan umpan ikan. Karena rasanya yang asam.
Sekitar tahun 1983, akhirnya penduduk setempat secara kompak menamakan daerah itu dengan sebutan Ancom. Arti Ancom sendiri merupakan bahasa lokal yang diterjemahkan asam dari buah perangat. Lambat laun, di tahun 90-an agar lebih mudah mengingat daerah dengan geografis tanah yang cukup gersang itu, diubah masyarakat transmigrasi setempat menjadi Ancam dan dikenal hingga kini.
Santoso, salah seorang warga transmigrasi setempat mengatakan, karena familiarnya sebutan daerah Ancam. Bahkan, nama desa sendiri yakni Ardi Mulyo, masyarakat luar kurang mengenalinya.
“Kalau orang bilang Ancam pasti pada tahu. Tak hanya di Bulungan, orang di Kota Tarakan juga kenalnya daerah ini sebutan Ancam,” ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa (Kades) di desa setempat.
Namun, lanjut pria yang juga pensiunan Sekretaris Desa (Sekdes) Ardi Mulyo ini, dengan semakin berkembangnya daerah dan siklus alam. Pohon buah perangat yang awal mulanya sepanjang sungai berdiri kokoh mulai punah. Tak lain, itu dikarenakan abrasi dan membuat satu persatu pohon tenggelam hingga terseret arus.
“Dulu sepanjang sungai ditumbuhi pohon buah perangat. Kalau sekarang mungkin hanya sisa belasan atau bahkan satuan,” ujar pria yang memiliki tujuh orang anak ini.
Tambahnya, sekalipun pohon buah perangat itu mulai punah. Ia yang menjadi bagian berdirinya desa setempat ini tetap memastikan nama daerah itu tak akan pernah berubah. Bahkan, di daerah sungai itu ada dibangunkan infrastruktur dermaga dengan nama Dermaga Ancam.
“Kita tentu harus menghargai arti sebuah nama daerah. Sekalipun itu hanya sebutan, akan tetapi arti munculnya nama itu bukan hal sembarangan,” katanya.
Dikatakannya kembali, selama ini masyarakat yang tinggal di daerah Ancam memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Pasalnya, dengan limpahan hasil sungai dan laut, mereka bisa menghidupi anak istrinya.
“Kebetulan saya juga cukup lama tinggal di daerah Ancam. Dan memang hasil laut hingga kini selalu ada setiap harinya,” ucapnya seraya menyebutkan hasil tangkapan seperti ikan, kepiting, udang dan lainnya.
Santoso berharap, daerah Ancam dapat terus berkembang baik. Meskipun selama ini tak ada aliran listrik PLN. Namun, semangat masyarakat tetap selalu terjaga agar daerah Ancam tak dilupakan. “Generasi muda juga harapannya dapat menjaga daerah Ancam dengan baik,” pintanya. (omg/eza)
Editor : Muhammad Erwinsyah