Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Miliki 11 Pintu, Lantai Ubin Didatangkan dari Belanda

Azwar Halim • Rabu, 7 Maret 2018 | 10:44 WIB
miliki-11-pintu-lantai-ubin-didatangkan-dari-belanda
miliki-11-pintu-lantai-ubin-didatangkan-dari-belanda

Masjid Sultan Kasimuddin merupakan masjid tertua di Kabupaten Bulungan, yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Aji Ali Gelar Sultan Alimuddin tahun 1777 hingga tahun 1817. Masjid tertua ini tidak lagi dikhususkan untuk keluarga kesultanan, namun sudah dibuka untuk masyarakat umum.


FITRIANI, Tanjung Selor


SIANG itu sekitar pukul 13.30 wita, penulis menuju dermaga Kayan I Bulungan menggunakan kendaraan roda dua, untuk bisa menaiki loangboat tradisional yang biasa disebut warga sekitar perahu tambangan. Di mana perahu ini merupakan salah satu transportasi favorit masyarakat, untuk mempersingkat waktu menuju Kecamatan Tanjung Palas.


Untuk sampai ke Tanjung Palas, penulis hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit karena jaraknya memang dekat. Dari dermaga Kayan I saja, sudah bisa melihat Tanjung Palas dengan jelas. Berbeda jika menggunakan jalur darat, masyarakat membutuhkan waktu sekitar 45 menit, namun tergantung kecepatan pengendara.


Sesampai di Kecamatan Tanjung Palas, penulis dibantu motoris tambangan untuk menaikkan kendaraan ke dermaga. Tak jauh dari dermaga, hanya butuh beberapa menit untuk bisa sampai di masjid. Sesampai di masjid, penulis mencoba menemui keluarga kesultanan namun, tidak berada di tempat. Akhirnya, penulis mencoba menemui juru kunci masjid Kesultanan Bulungan yakni Datu Ibrahim.


Sembari duduk di sebuah kursi peninggalan Kesultanan Bulungan, Datu Ibrahim memulai bercerita sejarah masjid kesultanan ini. Masjid tersebut dibangun pada masa pemerintah sultan kedua yakni, Sultan Aji Ali Gelar Sultan Alimuddin tahun 1777 hingga tahun 1817. Masjid kesultanan ini awalnya bernama Masjid Jami’.


Awal mulanya, masjid peninggalan sultan kedua ini berbahan dasar kayu biasa. Setelah puluhan tahun berdiri hingga masa kepemimpinan sultan kesembilan yakni Datu Belembung Gelar Sultan Kasimuddin yang bertakhta dari tahun 1900 hingga tahun 1925, akhirnya masjid itu direhab dengan mengganti dinding dari kayu bisa ke bahan ulin yang lebih kokoh dan lantai diberi ubin. Saat itu nama masjid pun diubah menjadi Masjid Kasimuddin.


“Masjid itu sempat juga direhab oleh sultan ke 12, yakni Datu Tiras Gelar Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin Sultan Jalaluddin tapi namanya sengaja tidak diubah, tetap Masjid Kasimuddin,” ujarnya kepada Radar Kaltara, Selasa (6/3).


Lantai yang diberi ubin itu, ternyata didatangkan langsung dari luar negeri yakni Belanda seperti yang terpasang di Istana I Kesultanan Bulungan yang juga dulunya berada di Kecamatan Tanjung Palas. Ukurannya setebal 5 cm yang hingga kini masih kokoh.  “Jadi sisa ubin Istana I yang sudah rusak, dipindahkan ke masjid. Semua ubinnya dari Belanda,” tutur pria kelahiran tahun 1954 ini.


Di dalam masjid terdapat 16 pilar yang terbuat dari kayu ulin, dan saat ini masih berdiri kokoh. Masjid ini juga tidak memiliki jendela, tetapi hanya miliki 11 pintu di antaranya 3 pintu terdapat di bagian depan, masing-masing 3 pintu di sisi kiri dan kanan dan dua di sisi kiblat.


Masjid yang dibalut warna putih dan les hijau itu juga, dilengkapi dengan mimbar buatan Datu Mansyur Pemangku Adat Kesultanan Bulungan dengan ukiran kaligrafi lengkap dengan tongkatnya. Peninggalan itu masih digunakan oleh masyarakat hingga saat ini. Selain itu suasana masjid pun dilengkapi beberapa hiasan kaligrafi-kaligraf yang indah.


“Jadi dulu Sultan ke 10 kalau salat Jumat dipayungi, hingga ke sampai ke masjid dengan lantunan musik khas Kesultanan Bulungan,” kenangnya.


Masjid yang berukuran sekitar 20x20 meter ini, bisa memuat hingga sekitar 500 orang jamaah. Saat Ramadan dan Lebaran masjid selalu dipenuhi masyarakat sekitar. Bahkan puluhan masyarakat beberapa harus salat di halaman masjid yang sudah dilapisi dengan karpet karena tidak muat di dalam masjid saat salat Idul Fitri.


“Kalau Lebaran jamaah sampai di halaman masjid, di sana itu dingin meskipun tanpa AC,” ungkapnya.


Diakuinya, Masjid Kasimuddin ini merupakan satu-satunya peninggalan Kesultanan Bulungan, karena istana dan beberapa rumah besar sudah hancur akibat masa penjajahan dahulu. Sementara museum yang menampung barang-barang peninggalan kesultaran baru dibangun beberapa puluh tahun lalu.


“Dulu juga pernah direhab oleh pemerintah sempat, menambah sedikit bangunannya. Tapi dibongkar kembali, karena peninggalan itu tidak boleh ditambah maupun dikurangi. Tidak masalah mengganti kalau sudah rusak tapi tidak boleh mertubah desainnya,” pungkasnya. (***/nri)

Editor : Azwar Halim