Bagiwarga di Desa Ardi Mulyo, Kecamatan Tanjung Palas Utara, menanam bunga di tengah jalan bukan mengartikan kekecewaan terhadap pemerintah karena lambannya pembangunan infrastruktur. Yang mana, tanaman itu sengaja dijajar secara rapi tak lain untuk membedakan dua jalur dan menambah estetika di desa tersebut. Berikut liputannya.
RACHMAD RHOMADHANI
BEBERAPA bulan terakhir, jalan di Desa Ardi Mulyo sontak membuat kagum para pengendara yang hendak melintas. Pasalnya, sepanjang jalan di desa tersebut ditanami ratusan bunga yang berjajar rapi di tengah jalan.
Tak ayal, para pengendara terkadang menyempatkan diri untuk mengabadikan momen dengan kamera handphone-nya. Bahkan, ada juga beberapa pengendara yang menurunkan laju kendaraan demi melihat berbagai jenis bunga yang ditanam warga setempat tersebut.
Berdasarkan pantauan Radar Kaltara di lapangan, untuk jenis bunga yang ditanam memang sangatlah beragam. Mulai dari bunga mawar, melati, sepatu hingga sedap malam terjajar rapi tepat di tengah-tengah jalan.
Dan pemadangan di desa yang mayoritas penduduk suku Jawa dan Bugis ini tak ubahnya seperti di perkotaan. Yang mana, terdapat dua jalur berbeda yang terpisahkan dengan tanaman bunga.
Ifa (25) salah seorang warga yang kala itu melintas di jalan tersebut mengakui akan keunikan masyarakat di Desa Ardi Mulyo. Awalnya, ia berpikir bahwa tanaman bunga itu merupakan ungkapan warga yang kesal karena infrastruktur jalan yang ada.
Sebab, diketahui jalan yang satu-satunya di Kecamatan Tanjung Palas Utara yang memiliki dua jalur pembangunannya belum sempurna. Di mana masih agregrat dan beberapa lokasi juga terlihat rusak dan berlubang.
“Awalnya saya berpikir warga kecewa karena jalan belum di aspal. Tahu-tahu saat saya bertanya ke warga setempat, tanaman bunga itu sengaja ditanam sebagai penanda dua jalur dan menambah keindahan estetika,” katanya.
Dikatakan juga, ide dalam menanam bunga secara sukarela tentu jarang dimiliki sekelompok orang. Apalagi, bunga yang ditaman merupakan tanaman yang cukup indah jika ditempatkan di rumah masing-masing. “Senang melihat ide seperti ini. Patut dicontoh,” ujarnya.
Senada dikatakan Rani (18), warga desa lain, bahwa tanaman bunga itu memang memiliki ciri khas sendiri. Biasa, diketahui jika di perkotaan tanaman di tengah jalan sebagai wujud kekecewaan. Namun, di desa ini justru sebaliknya. “Saya kira bunga itu ditanam karena kesal. Tak tahunya tanaman itu untuk memperindah lingkungan di desa,” ujarnya.
Ia berharap, dengan tanaman bunga yang sudah terjajar rapi di sepanjang jalan. Maka, perawatan sekiranya penting juga untuk diperhatikan. Karena sempat ia melihat beberapa bunga layu karena kurangnya perawatan. “Tapi, saya tetap merasa cukup senang. Lewat di jalan ini seraya jalan di perkotaan. Karena di median jalan terdapat tanaman bunga,” tuturnya.
Sementara, Tjandra warga setempat membenarkan bahwa tanaman itu sengaja ditanam untuk memperindah estetika lingkungan desa. Sebab, diketahui di desa yang dinobatkan sebagai daerah dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kerap melakukan inovasi-inovasi dalam hal mempertahankan penghargaan tersebut.
“Memang setiap KK (kepala keluarga) diwajibkan menyumbangkan bunga. Di samping kerelaan warga di sini jika ada bunga lebih, maka bunga diletakkan biasa jumlahnya lebih dari satu,” ungkapnya.
Adapun, lanjutnya, mengenai perawatan bunga tentunya tetap akan ada. Masing-masing KK yang tak jauh dari badan jalan terkadang menyiram dan merawatnya. “Bergantianlah. Cuma terkadang sering hujan, sehingga proses penyiraman jarang dilakukan,” tutupnya. (*/eza)
Editor : Azwar Halim