BALIKPAPAN - Populasi Pesut Mahakam atau Orcaella brevirostris di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai terancam kepunahan. Mamalia air tawar endemik yang dilindungi ini, menghadapi tekanan besar akibat aktivitas manusia dan degradasi habitat.
Hal ini diperparah dengan adanya 5 kasus kematian Pesut Mahakam yang terjadi sepanjang tahun 2024, membuat konservasi terhadap spesies langka ini menjadi kian mendesak.
Berdasarkan hasil survei dan monitoring yang dilakukan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) yang bekerjasama dengan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut (PKRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), saat ini populasi dari Pesut Mahakam berada dalam kondisi kritis. Dengan kurang dari 67 individu yang tersisa di Sungai Mahakam.
Padahal pemerintah telah menetapkan Kawasan Konservasi Nasional Perairan Mahakam Wilayah Hulu di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai kawasan perlindungan habitat Pesut Mahakam dan ikan ekonomis.
Melalui Keputusan Menteri KKP Nomor 49 Tahun 2022 tentang Kawasan Konservasi Di Perairan Mahakam Wilayah Hulu Kabupaten Kukar.
“Kawasan Konservasi Nasional Perairan Mahakam Wilayah Hulu, menjadi lokasi utama perlindungan spesies ini (Pesut Mahakam),” kata Kepala BPSPL Pontianak Syarif Iwan Taruna Alkadrie kepada Kaltim Post, Rabu (4/12).
Oleh karena itu, untuk memahami penyebab kematian 5 spesies Pesut Mahakam sepanjang tahun 2024 ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim bekerja sama dengan BPSPL Pontianak, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman (Unmul), Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) I Kaltim, dan Yayasan Konservasi RASI telah melakukan serangkaian analisis.
Yang bertujuan untuk mengungkap berbagai faktor penyebab kematian, termasuk gangguan fisik, paparan zat kimia berbahaya, dan ancaman lingkungan.
“Analisis dilakukan secara komprehensif melalui beberapa tahapan, yakni Nekropsi, lalu Analisis Histopatologi, Analisis Logam Berat, dan Analisis Mikroplastik,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia (HAPPI) ini.
Untuk analisis Nekropsi adalah analisis melalui pemeriksaan fisik. Untuk mengetahui kondisi tubuh Pesut Mahakam, termasuk adanya luka, trauma, atau tanda-tanda gangguan kesehatan.
Sedangkan analisis Histopatologi, berupa studi jaringan untuk mengidentifikasi kerusakan pada organ vital, seperti paru-paru, ginjal, hati, dan jantung. Kemudian analisis Logam Berat, berupa uji kadar logam berat seperti timbal (Pb), merkuri (Hg), kadmium (Cd), dan tembaga (Cu) di jaringan tubuh.
Untuk mengidentifikasi paparan zat berbahaya. Dan analisis Mikroplastik, berupa deteksi serat, film, atau fragmen mikroplastik di lambung dan usus pesut untuk memahami dampak pencemaran plastik.
Dan hasil temuan utama kasus kematian pesut sepanjang tahun 2024 dari analisis yang telah dilakukan tersebut adalah pada kasus pertama kematian Pesut Mahakam dengan kode Ob-Ma-21-2-24 ‘Four’ , merupakan pesut jantan dewasa yang ditemukan mati dengan penyakit organ pernapasan dan ginjal akibat usia lanjut.
Ditemukan Mikroplastik di lambung dan ususnya, sementara kadar logam berat masih di bawah ambang batas, pada spesies yang ditemukan pada 21 Februari 2024 di Perairan Sungai Desa Bukit Jering, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kukar ini.
Kemudian temuan kedua, pada Pesut Mahakam dengan kode Ob-Ma-2-4-24 ‘Angel’. Yang ditemukan pada 2 April 2024 di Pelabuhan Museum Mulawarman, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kukar.
Spesies ini merupakan pesut betina yang ditemukan dalam kondisi pembusukan lanjut, diduga mati akibat tersangkut jaring ikan dan tenggelam.
Kasus kematian Pesut Mahkan ketiga, dengan kode Ob-Ma-28-4-24 ‘Rexy’, ditemukan pada 28 April 2024 di Desa Pulau Harapan, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kukar.
Spesies ini merupakan pesut jantan yang mati karena letal kronis. Akibat akumulasi bahan-bahan toksik yang satu diantaranya berasal dari makanan yang dikonsumsi
Kasus kematian Pesut Mahakam keempat dengan kode Ob-Ma-21-6-24 ‘Samarinda’, yang ditemukan pada 21 Juni 2024 di Kota Samarinda. Merupakan pesut Jantan dewasa yang ditemukan mati akibat CHF (Congetif Heart Failure-gagal jantung) dan adanya renal Failure (gagal ginjal).
Karena adanya paparan zat kimia berbahaya dan faktor usia lanjut pada pesut. Terakhir adalah Pesut Mahakam dengan kode Ob-Ma-12-7-24 ‘Pela’.Yang ditemukan pada 12 Juli 2024 di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kukar.
Spesies ini merupakan pesut bayi pesut betina yang ditemukan mati dengan dugaan infantisida oleh pesut lain dan adanya faktor sakit (ginjal, lambung, paru-paru dan liver).
Baca Juga: Temukan Banyak Koperasi Tak Aktif, Bakal Dilaporkan ke Pusat untuk Menonaktifkan
“Hasil analisis ini menjadi peringatan serius bagi populasi Pesut Mahakam, Di mana Pesut Mahakam menghadapi tekanan besar dari aktivitas manusia. Termasuk penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, pencemaran mikroplastik, dan paparan zat kimia berbahaya,” tegas Syarif Iwan Taruna Alkadrie.
Dia juga menekankan bahwa Kawasan Konservasi Nasional di Perairan Mahakam Wilayah Hulu di Kabupaten Kukar yang dikelola oleh BPSPL Pontianak memainkan peran vital. Dalam melindungi habitat dan populasi pesut.
Kawasan Konservasi (KK) di Perairan Mahakam Wilayah Hulu. Yang memiliki total luasan sebesar 42.667,99 hektare. Terbagi menjadi Zona Inti seluas 1.081,28 hektare, Zona Pemanfaatan seluas 30.695,74 hektare, dan Zona Lainnya seluas 10.890,97 hektare.
“Dengan zona inti seluas 1.081 hektare, kawasan ini dirancang untuk mendukung perlindungan habitat strategis pesut, termasuk lokasi pemijahan ikan yang menjadi sumber makanan utama mereka” ujar pria yang akrab disapa Iwan ini.
Magister Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga menyebut bahwa upaya konservasi akan mencakup peningkatan pengawasan habitat, penegakan hukum terhadap aktivitas yang merusak lingkungan, dan edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem Sungai Mahakam perlu dilakukan.
Selain itu, penelitian lanjutan perlu dilakukan tentang dampak mikroplastik, logam berat, dan faktor genetik pesut akan dilakukan untuk mendukung langkah konservasi yang lebih baik. Dan temuan dari hasil analisis tersebut menjadi pengingat akan urgensi perlindungan Pesut Mahakam.
“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, LSM, dan masyarakat lokal sangat diperlukan. Untuk menciptakan habitat yang lebih aman dan berkelanjutan bagi pesut. Dengan hasil analisis ini, diharapkan langkah-langkah konservasi yang diambil dapat memastikan keberlanjutan spesies pesut di Indonesia, khususnya di Sungai Mahakam,” pungkas dia. (kip/jnr)
Editor : Azwar Halim