BALIKPAPAN - Pesisir Balikpapan menghadapi tantangan serius dalam menjaga ekosistem mangrove.
Abrasi pantai yang semakin parah telah mengancam keberadaan hutan konservasi yang berfungsi vital sebagai penyangga lingkungan.
Dalam konteks itu, Agus Bei, pelopor dan pemerhati lingkungan dari Mangrove Center Graha Indah Balikpapan, mengambil langkah proaktif.
Yakni memperkenalkan metode penanaman mangrove inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Menurutnya, mangrove memiliki peran yang sangat penting sebagai paru-paru dunia dan penjaga garis pantai dari ancaman abrasi.
“Mangrove berfungsi bukan hanya sebagai habitat bagi berbagai spesies. Tetapi juga sebagai pelindung penting bagi pesisir kita. Di Balikpapan, kita telah kehilangan hingga 500 meter dari garis pantai akibat abrasi,” ujar penerima gelar pelopor mangrove dari menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan beberapa waktu lalu.
Agus menekankan bahwa tanpa intervensi yang tepat, pada masa mendatang, maka kerusakan lebih lanjut bisa memperburuk keadaan.
Dia menyebut, Balikpapan memiliki sekitar 3.000 hektare hutan mangrove. Namun lahan tersebut terancam oleh tekanan yang tinggi dari aktivitas manusia dan dampak perubahan iklim.
“Apakah luasan mangrove masih tetap atau tidak saya belum mengetahui update-nya, karena tekanan terhadap lahan mangrove juga cukup tinggi di Balikpapan,” ungkapnya.
Baca Juga: PTMB Kaji Tawaran Desalinasi, Fokus Harga Jual untuk Konsumen
Agus mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam proyek pelestarian wisata mangrove adalah memastikan bahwa penanaman mangrove tidak hanya dilakukan dengan sembarangan. Tetapi memerlukan perawatan yang berkelanjutan.
Untuk menghadapi tantangan itu, Agus dan timnya memperkenalkan metode baru yang dikenal dengan nama “buispot”.
Metode itu merupakan inovasi pertama di Indonesia dan telah diuji coba dengan menanam 462 bibit mangrove menggunakan buispot yang dirancang khusus.
Buispot adalah struktur berbentuk seperti gorong-gorong dengan diameter sekitar 45 sentimeter dan tinggi satu meter yang terbuat dari bahan daur ulang limbah ramah lingkungan.
Sehingga mampu bertahan dalam kondisi laut yang keras. Untuk proses pembuatan buispot memerlukan waktu cetak hingga dua hari.
“Buispot ini sekaligus sebagai tripod tidak hanya berfungsi sebagai media tanam mangrove. Tetapi juga sebagai pemecah ombak,” kata Agus. Dengan berat mencapai lebih dari 600 kilogram, buispot mampu melindungi bibit mangrove dari dampak gelombang laut yang kuat serta mengurangi risiko bibit rusak atau tersapu ombak.
Meski begitu, inovasi tersebut tidak lepas dari tantangan. Agus mengungkapkan proses pengembangan buispot mengalami beberapa kali uji coba sebelum akhirnya berhasil.
“Penanaman mangrove di laut lepas adalah tantangan besar karena ombak yang bisa menghancurkan bibit. Dengan buispot, kami bisa mengurangi risiko tersebut dan meningkatkan kemungkinan keberhasilan penanaman,” jelasnya.
Selain buispot, Agus melakukan menggunakan kantong lumpur di Kampung Atas Air Balikpapan sebagai salah satu cara efektif untuk menanam mangrove di area dengan gelombang yang lebih tenang.
“Metode kantong lumpur sangat cocok untuk daerah dengan gelombang yang tidak terlalu tajam. Untuk area yang lebih berisiko, kami menggunakan buispot,” tambahnya.
Agus menjelaskan bahwa di pesisir Balikpapan terdapat berbagai jenis mangrove, termasuk Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, dan Bruguiera.
Setiap jenis mangrove memiliki karakteristik khusus yang bisa memengaruhi metode penanamannya.
“Ketika mangrove terancam oleh abrasi, kita tidak bisa hanya menunggu jenis-jenis mangrove seperti Avicennia tumbuh secara alami. Jadi inovasi seperti buispot menjadi sangat penting untuk memastikan keberhasilan penanaman,” ujarnya.
Menurutnya, metode buispot sangat cocok untuk kawasan pesisir pantai atau rawa laut dengan gelombang tajam.
Dengan mengukur titik ketinggian elevasi dan kondisi gelombang, buispot bisa diterapkan secara efektif untuk melindungi bibit mangrove dari kerusakan.
“Inovasi ini memberikan harapan baru dalam upaya melindungi dan memulihkan ekosistem mangrove kita,” tambahnya dengan optimisme.
Selain upaya teknis dalam penanaman, Agus menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga dan merawat hutan mangrove.
“Kami berharap masyarakat lokal bisa terlibat lebih aktif dalam program-program ini, karena mereka adalah garda terdepan dalam pelestarian lingkungan. Di Balikpapan juga semakin banyak wisata mangrove yang bisa dijadikan wilayah konservasi, untuk eduwisata dan pelestarian mangrove,” beber Agus.
Adapun berdasarkan data dari Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan bahwa peningkatan kunjungan wisata di kota ini mengalami kenaikan sebesar 42 persen dibandingkan tahun lalu pada periode Agustus. Tahun 2023 juga ada peningkatan 25 persen dari tahun sebelumnya pada periode yang sama.
Itu menunjukkan, destinasi wisata di Balikpapan terus mengalami lonjakan kunjungan. Selain kenaikan tahunan, terdapat juga peningkatan bulanan antara 5 hingga 15 persen, yang semakin menunjukkan Balikpapan menjadi destinasi yang semakin diminati.
“Kami sangat senang melihat pertumbuhan yang pesat dalam sektor pariwisata. Angka kenaikan ini menunjukkan minat yang terus berkembang dari wisatawan, baik lokal maupun internasional,” ujar Kepala Disporapar Balikpapan Cokorda Ratih Kusuma.
Pada Agustus 2024 menjadi periode naik dengan tingkat kunjungan yang sangat tinggi. Menandai bulan tersebut sebagai salah satu yang paling sibuk tahun ini. Kenaikan tersebut juga sejalan dengan peningkatan ekonomi kreatif dan pertumbuhan sektor UMKM di Kota Minyak.
Itu juga sejalan dengan apa yang dilakukan para pihak pengelola wisata mangrove di Balikpapan yang tidak hanya turut menjaga kawasan mangrove, namun juga merangkul UMKM. Bahkan hingga produk-produk dari mangrove.
“Kita sangat apresiasi apa yang sudah dilakukan Pak Agus Bei dari Mangrove Center. Maupun Pak Anwar Sadat dan Pak Hendra dari Hendrawisata Pesona Mangrove di Somber. Di mana mereka terus melakukan inovasi dan menjadikan mangrove bukan hanya tempat konservasi, tetapi juga wisata dan edukasi yang dikemas secara menarik,” pungkasnya. (rom/jnr)
Editor : Azwar Halim