BALIKPAPAN – Air bersih akhirnya mengalir untuk warga Kelurahan Gunung Sari Ulu (GSU). Setelah ada treatment air bersih hingga pembangunan sarana pendukung dari sumur bor dalam.
Sumur bor dalam yang berada di RT 35 akan mengaliri ke warga sekitar. Termasuk RT 29, RT 37, dan RT 40. Seusai persiapan kurang lebih satu bulan, peluncuran pilot project Kota Kita berlangsung pada Rabu (11/9).
Ini bagian dari program Kota Kita oleh Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Balikpapan dengan menggandeng pentahelix.
Terdiri dari pemerintah, masyarakat, akademisi, swasta atau pengusaha, sampai media. Semua berperan sesuai kemampuan masing-masing
Kepala Disperkim Rafiuddin mengatakan, pihaknya bersyukur kerja sama dari berbagai pihak ini bisa mewujudkan penyediaan air bersih di Kelurahan GSU. “Sekaligus membantu perekonomian warga sekitar,” ucapnya kepada awak media.
Terutama masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Mengingat operasional dan pemeliharaan sumur bor dalam dikelola oleh masyarakat sekitar. Air dari sumur bor dalam ini juga turut membantu suplai air untuk SD 025 Balikpapan Tengah.
Selama ini, siswa dan guru kesulitan mendapatkan air bersih. Meski sekolah berlokasi dilalui jalan utama dan terdapat sambungan pipa PDAM. Namun kawasan GSU sulit teraliri air. Apalagi yang berada di perbukitan.
Dalam kesempatan tersebut, Labkesda Balikpapan menyerahkan dokumen hasil uji coba air sumur bor dalam yang telah dinyatakan layak air bersih. Sebelum mendapat treatment, air masih berwarna kuning. Kini air sudah berwarna jernih.
TAK LAGI SULIT AIR
Salah satu warga RT 35 Kelurahan GSU Wawan menuturkan, selama ini warga sekitar susah mendapatkan air bersih. Meski rumahnya sudah tersambung pipa PDAM. Kenyataannya air tetap sulit mengalir.
Baca Juga: Presiden Akan Sering Bolak Balik Kaltim, Jokowi Berencana Ngantor di IKN Hingga 19 Oktober
Mengingat lokasi permukiman berada di perbukitan. Maka keberadaan sumur bor dalam ini menjadi harapan baru bisa mendapat air dengan mudah.
Warga sangat terbantu dengan fasilitas tersebut. “Tinggal buka keran sekarang sudah mengalir,” ujarnya. Wawan bercerita telah menjadi bermukim di sana sejak 2000 silam. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan air dengan membeli air dari layanan penjualan tangki PDAM.
“Sebulan harus beli air sampai 3 tangki untuk kebutuhan satu rumah. Biaya sekitar Rp 50 ribu per tangki,” imbuhnya. Dia berharap, adanya air ini bisa membantu masyarakat tak lagi kesulitan akses air bersih. (gel/jnr)
Editor : Azwar Halim