Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Peluang Industri Hulu Migas Indonesia di Masih Sangat Besar

Radar Tarakan • Rabu, 18 Desember 2024 | 10:00 WIB

INT PELUANG BESAR: Migas menjadi salah satu sektor yang paling jadi perhatian, karena Presiden Prabowo Subianto sudah menetapkan target swasembada energi.
INT PELUANG BESAR: Migas menjadi salah satu sektor yang paling jadi perhatian, karena Presiden Prabowo Subianto sudah menetapkan target swasembada energi.

JAKARTA  - Pemerintah menarget peningkatan pertumbuhan ekonomi termasuk dari sisi energi. Ditambah pula kebutuhan energi Indonesia diproyeksi makin meningkat.

Migas menjadi salah satu sektor yang paling jadi perhatian, karena Presiden Prabowo Subianto sudah menetapkan target swasembada energi. Salah satunya dengan meningkatkan produksi migas.

Analyst E&P Research Rystad Energy Stephen Salomo mengungkapkan, peluang Indonesia di industri hulu migas masih sangat besar.

Bahkan Indonesia jadi salah satu negara yang jadi perhatian khusus para pelaku usaha di sektor hulu migas dunia. Ini tidak lepas dari beberapa temuan giant discovery yang terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Dalam strategi transisi energi yang diusung pemerintah, terdapat beberapa skenario yang dibagi berdasarkan kecepatan transisi tersebut. Dari beberapa skenario ada satu kesamaaan yang bisa dilihat yakni sama-sama masih membutuhkan migas dalam jumlah yang besar.

Mau skenario-nya slow transition, mau skenario-nya very fast transition, kita masih perlu minyak," kata Stephen dalam media briefing di Jakarta pada Selasa (17/12).

 Baca Juga: Kwarda Kaltara Tanam 200 Pohon

Dalam analisis yang dilakukan Rystad Energy, kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah dengan nilai investasi hulu migas terbesar di dunia.

Total investasi proyek hulu migas yang sudah Final Investment Decision (FID) pada 2025 mencapai USD 21 miliar. Secara persentase investasi tersebut 50 persen lebih dialokasikan untuk pengembangan cadangan gas.

Potensi cadangan migas di Indonesia saat ini juga sudah mulai bergerak ke wilayah laut dalam. Sebut saja blok Masela, di Geng North, Layaran, dan Tangkulo. Hal itu juga terjadi di berbagai wilayah di negara lain.

 Baca Juga: Oktober 2024, Impor Kaltara Turun 32,60 Persen

Menurut Stephen, hal itu dinilai wajar karena dari sisi volume memang rata-rata temuan cadangan migas di migas laut dalam jumlah cadangannya terbilang besar atau giant discovery.

"Sepanjang tahun 2023-2024 ada 5 temuan besar di dunia adalah berasal dari deep water. Kenapa itu semakin didorong, karena discovery-nya selalu besar," ujar Stephen.

Proyek migas laut dalam juga dinilai akan makin sering digarap. Para kontraktor ke depan tidak akan ragu untuk menggelontorkan investasi karena dengan perbaikan data serta perkembangan teknologi, diharapkan keekonomian proyek migas laut dalam akan semakin baik.

 Baca Juga: Pelita Air Resmikan Rute Baru

Menurut dia, tren penurunan ongkos produksi dari kegiatan migas laut dalam yang terjadi di dunia akan juga dialami di Indonesia.

"Kalau kita lihat dari sisi global, pertama teknologinya sudah berkembang, dulu development cost untuk deep water mungkin secara global itu bisa sampai USD 14 per barel oil equivalent (BOE). Sekarang dengan teknologi di Guyana, Suriname, bahkan di Indonesia, kita bisa mencapai rata-rata di sekitar USD 8 per BOE. Soalnya dalam waktu kurang lebih dari 10 tahun, perbedaannya jadi signifikan," jelas Stephen.

Sementara itu, Country Head Indonesia Rystad Energy Sofwan Hadi menilai, salah satu kunci utama dalam memanfaatkan potensi migas yang diyakini masih besar terkandung di Indonesia adalah kecepatan dalam pengambilan keputusan.

Dia mengapresiasi apa yang terjadi dalam pengembangan Geng North yang jadi salah satu temuan terbesar di dunia pada tahun 2023 lalu dan respon pemerintah terhadap temuan tersebut.

Ia mengatakan, kecepatan dalam proses pegembangan Geng North dan Indonesia Deepwater Development (IDD) untuk lapangan Gehem Wilayah Kerja Ganal dan Wilayah Kerja Rapak (North Hub Development Project Selat Makassar) patut diapresiasi karena dalam hitungan satu tahun sudah disetujui rencana pengembanga (Plan of Development/POD).

Kalau kita lihat butuh pengambilan keputusan dengan cepat, dekati mereka (investor) tarik komitmen mereka pengerjaan proyek harus dipercepat," kata Sofwan.(jpg/ana)

Editor : Azwar Halim
#Proyeksi #jakarta #industri hulu migas #Prabowo Subianto #pertumbuhan ekonomi